Ekonomi

Rahbini: Kesalahan Kolektif Selama 3 Tahun Kelola Hutang

Oleh : Redaksi, beritakawanua.com
Saturday, 12 May 2018 06:41   761 kali

JAKARTA (BK): Kesalahan kolektif telah terjadi selama 3 tahun pada pemerintahan Joko Widodo - Jusuf Kalla dalam mengelola hutang negara.

 

Hal tersebut dikatakan pengamat ekonomi Didik J Rahbini dalam diskusi ekonomi yang dilaksanakan Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) di Cikini , Jumat (11/5/2018).

 

Kesalahan kolektif, menurut Rahbini, dapat dilihat dengan meningkatnya hutang yang hampir dua kali lipat dari tahun 2013 sampai tahun 2018. "Telah terjadi kenaikan hampir dua kali lipat, tahun 2013 hutang ada pada posisi Rp2300 triliun, saat ini mencapai Rp4000 triliun, "tandasnya.

 

Itupun menurutnya belum ditambah dengan hutang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sekitar Rp700 triliun dan hutang swasta. Ratio hutang pemerintah sudah mencapai 61 persen, atau telah melewati batas maksimal 60 persen menurut undang-undang nomor 17 tahun 2003 tentang keuangan negara.

 

Senada dengan Rahbini, dosen Unika Atmajaya Frans Aba otokritik menegaskan, harus diberikan kepada pemerintah agar tidak selalu bertahan pada argumentasi dan kebohongan data statistik. " Indonesia memang bukan negara terbesar dalam berhutang, namun fundamental ekonomi masih lemah, dibanding Amerika Serikat, Brasil, Jepang atau China, "jelas Aba.

 

Sementara itu, Wakil Ketua KEIN Arif Budimanta menilai, tidak ada yang salah dengan kebijalan hutang Indonesia." Dari perspektif konstitusi rasio hutang masih di bawah 60 persen, dari sisi alokasi pemanfaatan untuk pembangunan infrastruktur, anggaran pendidikan dan penanggulangan kemiskinan mengalami peningkatan," ujarnya. Namun Budimanta juga mengakui pengelolaan hutang harus dilakukan hati-hati agar tidak hanya di kuasai oleh segelintir orang. Narasumber lain Hasudungan Tampubolon pengamat perbankan melihat hutang negara tidak perlu terlalu dikhawatirkan sepanjang pemimpin negara mempunyai integritas baik.

 

"Jokowi saya lihat punya integritas baik. Ingat banyak negara gagal bukan karena persoalan ekonomi tapi faktor non ekonomi termasuk soal kepemimpinan," ungkapnya.

 

Di lain pihak Direktur Strategi Pembiayaan dan Portofolio Kementerian Keuangan Sceinder C Siahaan mengatakan hutang itu dilakukan karena ada kebutuhan dan akselerasi untuk membangun. Selain itu hutang di gunakan untuk hal yang konstruktif. Dia menekankan tidak perlu membanding-bandingkan apalagi menyalahkan kebijakan hutang tiap masa kepemimpinan.

 

Diskusi berlangsung tersebut dibuka Ketua Dewan Pakar PA GMNI Theo Sambuaga, sebelumnya diawali pengantar diskusi oleh Ketua Pokja Ekonomi PA GMNI Kristiya Kartika.

 

(don/bk-1)

 

Komentar ()
Berita Ekonomi
Ekonomi
26 Sep 2018 / dibaca 497 kali
MANADO (BK): Anda penggemar kaos dengan model terbatas atau di desain sendiri sehingga tidak mempunyai kembaran dengan yang lain? Atau, justru...
Ekonomi
21 Sep 2018 / dibaca 421 kali
JAKARTA (BK): Bupati Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), Christiany Eugenia Paruntu SE, mengikuti Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang...
Ekonomi
17 Sep 2018 / dibaca 333 kali
MANADO (BK) : Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sulut, Refly D Ngantung meminta petani kelapa untuk lebih kreatif dalam mengembangkan usahanya....
Ekonomi
26 Aug 2018 / dibaca 260 kali
MANADO (BK) : Setelah sukses diselenggarakan di 12 titik di 10 kota di Indonesia, GO-FOOD Festival hadir di Manado sebagai alternatif...
Ekonomi
24 Aug 2018 / dibaca 408 kali
MANADO (BK): Roos Anna Josina Supit, pengusaha catering asal Mapanget, Kota Manado, tak menyangka kesetiaannya menggunakan kendaraan Daihatsu...
Profil Perusahaan | © 2011 - 2019 BeritaKawanua.com - Terdepan Mengabarkan Fakta.