Lingkungan

Likupang dan Lembeh ternyata Rentan Bencana Ekologis dan Perubahan Iklim

Oleh : Redaksi, beritakawanua.com
Monday, 15 October 2018 18:52   747 kali
Lokakarya Pemetaan Partisipatif Kerentanan Masyarakat di Pantai Likupang dan Pulau Lembeh Dalam Menghadapi Bencana Ekologis dan Perubahan Iklim. (fot
MANADO (BK) : Yayasan Terumbu Karang Indonesia (TERANGI) menyatakan masyarakat di Pantai Likupang Kabupaten Minahasa Utara (Minut) dan Pulau Lembeh, Bitung ternyata rentan dengan bencana ekologis dan perubahan iklim.
 
 
Ketua Yayasan TERANGI, Safran Yusri mengatakan di dua lokasi itu terindikasi bencana seperti banjir, banjir rob, kekeringan serta bahaya tanah longsor. Data itu didasari lewat survey yang dilaksanakan di tiga kelurahan di Pulau Lembeh, yaitu Pasirpanjang, Pintu Kota dan Kareko.
 
 
“Jika sebelumnya tidak terdeteksi pada peta kerentanan BNPB, tapi hasil survey, kerentanan itu kami temukan,” ujar Yusri pada Lokakarya Pemetaan Partisipatif Kerentanan Masyarakat di Pantai Likupang dan Pulau Lembeh Dalam Menghadapi Bencana Ekologis dan Perubahan Iklim, Jumat 12 Oktober 2018 lalu.
 
 
Yayasan TERANGI menggandeng Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) dan Kementerian Badan Perencanaan Nasional (Bappenas) untuk menggelar lokakarya yang dilangsungkan di Kelurahan Pintu Kota, Pulau Lembeh, Kota Bitung.
 
 
Peneliti Sosial, Endang Retnowati menyebut kawasan Kota Bitung dan Pantai Likupang memang memiliki nilai strategis secara ekologis dan ekonomi. Menurutnya, Sulawesi Utara terletak di pusat segitiga karang, dimana kawasan tersebut sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia.
 
 
Selain itu, industri perikanan juga menjadi urat nadi perekonomian di Kota Bitung dan Likupang. “Sayangnya, kerentanan masyarakat menghadapi perubahan iklim di kawasan tersebut belum pernah dinilai pada tingkat desa atau kelurahan,” terang Retnowati.
 
 
Yusri menambahkan, kerentanan masyarakat menghadapi perubahan iklim tersebutlah yang mendasari Yayasan TERANGI melakukan pemetaan partisipatif di Desa Bahoi dan Likupang 2 di Pantai Likupang, serta Kelurahan Pintu Kota, Pasir Panjang, dan Kareko di Pulau Lembeh Bitung.
 
 
Survei katanya, dilakukan kepada masyarakat untuk menggali semua bentuk pengalaman serta menampung aspirasi yang perlu diverifikasi secara bersamaan, sehingga akan didapatkan pandangan yang obyektif.
 
 
Survei yang digunakan adalah dengan melakukan pendekatan sosial ekonomi dan spasial, dimana dalam pendekatan sosial, tim survei mendekati masyarakat dan mengumpulkan informasi terkait perspektif dan pengalaman masing-masing.
 
 
“Proses georeferensi juga dilakukan untuk memasukkan data ke dalam peta digital yang berisi berbagai potensi bahaya dan bentuk-bentuk adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat,” terang Yusri.
 
 
Pertimbangan lain dipilihnya 3 lokasi tersebut, lanjutnya adalah daerah itu dengan investasi tinggi dari program CCDP IFAD yang banyak mendapatkan investasi pembangunan SDM dan infrastruktur di sektor bahari. 
“Jika 3 kelurahan ini masih rentan, berarti ada indikasi kemungkinan kelurahan lain yang minim investasi akan jauh lebih terancam bahaya bencana dan perubahan iklim,” tandas Yusri.
 
 
Program ini kemudian disambut baik oleh masyarakat dan pemerintah setempat. Apalagi penilaian kerentanan masyarakat sejauh ini, belum menjadi perhatian serius.
 
 
“Persepsi masyarakat sesungguhnya sangat diperlukan. Jika terjadi sesuatu, masyarakatlah yang akan paling besar menerima dampaknya dan apakah masyarakat akan mampu menghadapinya atau malah rentan,” ungkap Youbi Rori (59), warga Pintu Kota. 
 
 
Sementara Asisten II Bidang Perekonomian Dan Pembangunan, Sekretariat Daerah Kota Bitung Drs Jefri Wowiling MSi, mengungkapkan, saat ini Indonesia sedang dalam tahap ujian dari Tuhan. Gempa dan tsunami di Palu, Sigi dan Donggala Sulteng, gempa Situbondo Jawa Timur dan Lombok Nusa Tenggara Barat,memberikan efek kerusakan yang tergolong parah.
 
 
Sejauh ini katanya, Sulut khususnya Kota Bitung tetap waspada terhadap bencana alam, karena masuk kategori merah berpotensi tinggi terjadi bencana alam. Bitung diibaratkannya supermarket bencana atau berpotensi dilanda bencana seperti gempa bumi, gunung berapi, gelombang tinggi dan angin kencang.
 
 
“Masyarakat harus siap dalam menghadapi fenomena dan bencana alam. Kita tidak pernah tahu kapan dan dimana bencana itu akan datang, tapi setidaknya kita harus paham mekanisme adaptasinya,” tandas mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bitung itu.
 
 
(acha/bk-8)
Komentar ()
Berita Lingkungan
Lingkungan
26 Nov 2016 / dibaca 1862 kali
MANADO (BK): Manado ternyata berpredikat darurat sampah. Fakta ini terungkap pada Forum Group Discussion (FGD) yang digelar Aliansi Jurnalis...
Lingkungan
09 Nov 2016 / dibaca 1094 kali
DENPASAR (BK)Bupati Minahasa Drs Jantje Wowiling Sajow MSi tampil memukau menjadi Nara Sumber dalam The 16th World Lake Conference atau Kongres...
Lingkungan
17 Sep 2016 / dibaca 1410 kali
MANADO (BK): Kapal pembangkit listrik terapung Karadeniz Powership Zeynep Sultan ternyata ramah lingkungan. Pasalnya, tidak ditemukan limbah...
Lingkungan
17 Sep 2016 / dibaca 1258 kali
MANADO (BK): Kepedulian Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Manado terhadap lingkungan patut diacungi jempol. Salah satunya dengan melaksanakan...
Lingkungan
13 Sep 2016 / dibaca 1328 kali
MANADO (BK) : Dinas Pertanian Kota Manado menargetkan menanam 11 ribu bibit mangrove di tahun 2016 ini. Pantai Tongkeina, Bunaken dan Alung...
Profil Perusahaan | © 2011 - 2019 BeritaKawanua.com - Terdepan Mengabarkan Fakta.