Religi

Jerry Sambuaga: Dukung Sikap PGI

Oleh : Redaksi, beritakawanua.com
Monday, 29 October 2018 07:05   973 kali
Jerry Sambuaga silaturahmi dengan tokoh dan pemuda Islam di Manado, Sabtu pekan lalu.

JAKARTA (BK): Hingga kini, polemik mengenai dua pasal yaitu Pasal 69 dan 70 dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Pesantren dan Pendidikan Keagamaan terus ditanggapi berbagi pihak. Anggota DPR RI dari daerah pemilihan Provinsi Sulawesi Utara, Jerry Sambuaga mendukung sikap Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) yang keberatan dengan Pasal 69 dan 70 tersebut.

 

"Cabut dua pasal dalam RUU Pesantren dan pendidikan keagamaan karena dua pasal tersebut (69 dan 70) tidak sesuai dengan tata cara peribadahan Umat Kristen," ujar Jerry dalam keterangan tertulis, Minggu (28/10/2018). Jerry menilai, dua pasal yang menjadi polemik itu merupakan bentuk intervensi negara kepada tata cara peribadahan umat Kristen. Padahal, selama ini, sekolah minggu dan katekisasi sudah berjalan dengan baik dan tak pernah ada masalah.

 

"Sekolah minggu dan katekisasi bukan merupakan pendidikan formal, tetapi merupakan bagian dari ibadah dan pelayanan gereja. Jadi seharusnya tidak memerlukan izin dari pemerintah dan tidak memerlukan syarat minimum peserta," tuturnya. Anggota Komisi I DPR RI itu pun mendorong Komisi VIII untuk segera mencabut dua pasal tersebut. Dia juga meminta komisi yang membidangi agama tersebut untuk melibatkan PGI dalam pembahasan RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan.

 

"Sehingga dapat aspirasi dari PGI dan umat Kristen pada umumnya dapat diperhatikan sehingga dapat menghasilkan kesepakatan yang terbaik untuk semua pihak," kata Jerry.  "Walaupun bukan menjadi ranah dari Komisi I, dimana saya bertugas, tapi sebagai wakil rakyat dari Sulawesi Utara, saya memiliki kewajiban moral untuk memperjuangkan aspirasi dari masyarakat Sulawesi Utara yang menginginkan supaya dua pasal ini tidak dimasukan dalam RUU," sambung dia. 

 

Salah seorang tokoh agama Kristen di Manado, Pdt. Renata Ticonuwu, STh menegaskan, pihaknya sedang mengumpulkan petisi mencabut dua pasal tersebut dalam RUU. “Organisasi masyarakat (ormas) dan Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) sedang berjuang kumpul tandatangan petisi tolak dua pasal. Bahkan, kami akan bawa petisi itu langsung ke Ketua DPR RI di Jakarta. Intinya tolak,” papar Ticonuwu, belum lama ini.

 

Diberitakan sebelumnya, PGI menyoroti soal syarat pendirian pendidikan keagamaan, yaitu memasukkan syarat peserta didik paling sedikit 15 orang serta mendapat izin dari Kanwil Kementerian Agama tingkat kabupaten/kota. Kini muncul petisi berisi penolakan terhadap pasal tersebut.

 

Aturan ini dinilai tak sesuai dengan model pendidikan anak dan remaja gereja di Indonesia. PGI menyatakan model pendidikan Sekolah Minggu dan Katekisasi tak bisa disetarakan dengan pesantren. "Sejatinya, Pendidikan Sekolah Minggu dan Katekisasi merupakan bagian hakiki dari peribadahan gereja, yang tidak dapat dibatasi oleh jumlah peserta, serta mestinya tidak membutuhkan izin karena merupakan bentuk peribadahan," kata PGI.

 

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin juga telah angkat bicara. Dia mengatakan Kementerian Agama akan segera membuat draf persandingan itu sebagai solusi dari polemik yang ada. "Saya menerima banyak keluhan terkait isi RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan. Kemenag akan segera membuat rancangan persandingannya berdasarkan pertimbangan atas masukan dari masyarakat," ujar Lukman di akun Twitter resminya, @lukmansaifuddin, Sabtu (27/10/2018). 

 

Komisi VIII DPR RI sendiri telah menanggapi keberatan PGI tersebut. Komisi VIII DPR siap mendiskusikan keberatan PGI tersebut dan menerima draf RUU Pesantren untuk dibahas bersama-sama. "Soal masukan dari PGI tentang tentang pasal 69 dan 70, masih terbuka untuk dibahas bersama-sama," ujar Wakil Ketua Komisi VIII DPR Ace Hasan Syadzily saat dimintai konfirmasi, Kamis (25/10).


Berikut ini 2 pasal yang dikritik PGI:

Pasal 69

(1) Pendidikan Keagamaan Kristen jalur pendidikan nonformal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 diselenggarakan dalam bentuk Sekolah Minggu, Sekolah Alkitab, Remaja Gereja, Pemuda Gereja, Katekisasi, atau bentuk lain yang sejenis.
(2) Pendidikan Keagamaan Kristen nonformal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh gereja, organisasi kemasyarakatan Kristen, dan lembaga sosial keagamaan Kristen lainnya dapat berbentuk satuan pendidikan atau program.
(3) Pendidikan Keagamaan Kristen nonformal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan dalam bentuk program yang memiliki peserta paling sedikit 15 (lima belas) orang peserta didik.
(4) Pendidikan Keagamaan Kristen nonformal yang diselenggarakan dalam bentuk satuan pendidikan atau yang berkembang menjadi satuan pendidikan wajib mendapatkan izin dari kantor Kementerian Agama kabupaten/kota setelah memenuhi ketentuan tentang persyaratan pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2).

Pasal 70

(1) Pendidikan Keagamaan Kristen nonformal bertujuan untuk melengkapi pendidikan agama Kristen yang diperoleh di Sekolah Dasar/ Sekolah Dasar Teologi Kristen, Sekolah Menengah Pertama/ Sekolah Menengah Pertama Teologi Kristen, Sekolah Menengah Atas/ Sekolah Menengah Teologi Kristen/Sekolah Menengah Agama Kristen atau di pendidikan tinggi dalam rangka peningkatan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Tuhan.
(2) Penyelenggaraan Pendidikan Keagamaan Kristen nonformal dapat dilaksanakan secara berjenjang atau tidak berjenjang.
 

(dtc/bk-1)

 

 

Komentar ()
Berita Religi
Religi
11 May 2019 / dibaca 619 kali
MANADO (BK): Puasa adalah satu-satunya ibadah yang tidak terlihat ibadahnya. Mengapa? Karena yang mengetahui ibadah itu hanya orang yang...
Religi
25 Apr 2019 / dibaca 841 kali
SEA (BK): Peran perempuan sejak jaman Yesus sangat menonjol. Perempuan mengerti bahasa ekonomi, mereka juga menyaksikan di mana kubur Yesus....
Religi
22 Apr 2019 / dibaca 646 kali
MANADO (BK): Pemahaman theologi sebagai pendalaman iman menjadi prioritas dalam perayaan kemenangan Yesus Kristus, dalam semarak Paskah 2019....
Religi
22 Apr 2019 / dibaca 522 kali
MANADO (BK):  Uskup Manado Mgr Benedictus Estefanus Rolly Untu, MSC memimpin ibadah Jumat Agung Gereja Oikumene Abigail Rutan Klas IIA...
Religi
06 Feb 2019 / dibaca 1026 kali
MANADO (BK) : Milad Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke-72, diperingati dengan cara berbeda oleh HMI Cabang Manado. Peringatan secara sederhana...
Profil Perusahaan | © 2011 - 2020 BeritaKawanua.com - Terdepan Mengabarkan Fakta.