Ekonomi

KNK IX dan Expo Kelapa, Dorong Produksi Petani Kelapa untuk Ekspor

Oleh : Redaksi, beritakawanua.com
Friday, 16 November 2018 17:09   659 kali
Konferensi Nasional Kelapa (KNK) ke IX dan Expo Kelapa di Sintesa Peninsula Hotel Manado, Jumat (16/11/2018). (foto : acha)
MANADO (BK) : Kementerian Pertanian (Kementan) memfokuskan pertanian sebagai pilar penentu dan penyelamat perekonomian nasional. Program untuk peningkatan kesejahteraan petani membuat Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mendapat Penghargaan sebagai Penjaga Pangan Nasional 2018.
 
 
“Program beliau (Menteri) ini ternyata mampu menurunkan inflasi serta meningkatkan ekspor hingga 24 persen,” ujar Kepala Badan Litbang Kementerian Pertanian, Prof. Dr. M Syakir saat membuka Konferensi Nasional Kelapa (KNK) ke IX dan Expo Kelapa di Sintesa Peninsula Hotel Manado, Jumat (16/11/2018).
 
 
Salah satu peningkatan ekspor, kata Syakir adalah komoditi kelapa. Kenapa kelapa? Kelapa dikatakannya adalah komoditas yang memiliki sejarah panjang di Indonesia. Saat ini, luas lahan kelapa adalah 3,6 juta hektar yang melibatkan 20 juta petani yang berhubungan langsung dengan tidak berhubungan langsung dengan kelapa nasional.
 
 
Secara umum, lanjut Syakir, fase pangan dari awal sudah digoreng dengan baik oleh Kementerian Pertanian dengan berbagai program khusus. Diantaranya, ekspor jagung, bawang merah, dan bahkan swasembada beras. Dalam 2 tahun terakhir ini, Menteri Amran Sulaiman juga mendorong untuk rempah dan perkebunan.
 
 
“Oleh karena itu, pemberian bibit gratis termasuk kelapa secara nasional yang cukup besar dibagikan secara gratis kepada petani. Kami juga mendorong petani secara nasional untuk melakukan peremajaan tanaman kelapa karena perkebunan kelapa kita umumnya sudah berumur sudah tua,” terang Syakir.
 
 
Mengenai dipilihnya Manado sebagai pelaksanaan KNK, dia mengatakan Sulawesi Utara (Sulut) memiliki sejarah panjang penghasil perkebunan yang cukup besar di Indonesia. Untuk itu, Sulut lebih dikenal dengan Kota Nyiur Melambai karena kelapa. Meskipun katanya, kelapa tidak bisa lagi dikelola secara konvensional, tetapi harus modern.
 
 
Kepala Badan Litbang Kementerian Pertanian, Prof. Dr. M Syakir. (foto : acha)
 
 
Di era penggunaan pertanian modern ini, Syakir mengatakan Menteri Amran Sulaiman ingin memasuki fase modernisasi dengan salah satu indikator kuat adalah pembagian alsintan yang cukup besar. Apalagi sekarang terjadi kelesuan ekonomi dunia yang tentunya juga berdampak secara nasional.
 
 
“Oleh karena itu, Pak Menteri mencoba bagaimana mendorong produk pertanian untuk ekspor. Beberapa komoditas kita memiliki potensi secara historis, rempah dan perkebunan termasuk kelapa,” tandasnya.
 
 
Sebelumnya Ketua Panitia, Jelfina Alouw dalam laporannya menyebut KNK IX ini diprakarsai Badan Litbang Pertanian cq Balai Penelitian Tanaman Palma Lainnya (Balitpalma) Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, yang dilaksanakan secara nasional setiap empat tahun. Kongres ini telah dilaksanakan hingga 9 kali di beberapa tempat di Indonesia yang merupakan pusat/sentra kelapa.
 
 
“Konferensi ini dihadiri oleh 500 peserta yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Diantaranya adalah International Coconut Community (ICC), Filipina, Australia, Vietnam, para pelaku bisnis/industri hilir sektor perkebunan, petani, LSM, asosiasi kelapa, perguruan tinggi, pemerintah pusat dan daerah, peneliti, mahasiswa, akademisi, media pers dan masyarakat pemerhati kelapa,” sebut Jelfina.
 
 
Dengan mengambil tema “Sinergisme untuk Mempercepat Peningkatan Kesejahteraan Petani dan Keberlanjutan Industri Kelapa”, Jelfina mengatakan tujuan KNK IX adalah membangun sinergitas diantara stakeholders untuk mengakselerasi peningkatan kesejahteraan petani, serta pemenuhan kebutuhan kelapa serta produk turunan yang berkualitas ekspor serta industri berkelanjutan.
 
 
Selain itu, juga mendesiminasikan hasil-hasil penelitian unggulan di bidang perkelapaan kepada masyarakat luas, serta menumbuhkan kreativitas dalam pengembangan produk berkualitas melalui festival produk kelapa yang inovatif dan berdaya saing tinggi. “juga memberikan bantuan sosial benih kelapa unggul bersertifikat kepada masyarakat petani kelapa,” terang Kabid KSPHP Puslitbang Perkebunan Kementerian Pertanian ini.
 
 
Pada hari pertama, akan dipresentasikan 12 makalah yang terdiri atas 3 makalah Kebijakan dan 9 Makalah Utama serta makalah poster. Sedangkan hari kedua meliputi pameran yang diikuti peserta dari dalam maupun luar negeri, yaitu PT. Unilever, PT. Global Coconut, PT Royal Coconut, PT Dimembe Nyiur Agripro, dan Unit Kerja lingkup Balitbangtan, Kementerian Pertanian, kemudian diikuti dengan Bimbingan Teknis (BIMTEK), dan lomba produk inovatif.
 
 
(acha/bk-8)
Komentar ()
Berita Ekonomi
Ekonomi
15 Feb 2019 / dibaca 538 kali
MANADO (BK) : Cap Tikus 1978, minuman keras (miras) lokal Sulawesi Utara (Sulut), ternyata mampu menyita perhatian nasional. Dukungan pun...
Ekonomi
24 Jan 2019 / dibaca 711 kali
MANADO (BK) : Kantor Pemasaran (SalesOffice) Holland Village Manado (HVM) diresmikan. Peresmian kantor yang berlokasi di area...
Ekonomi
23 Jan 2019 / dibaca 818 kali
MANADO (BK) : Cap Tikus 1978 menghilang dalam sepekan terakhir. Miras produk asli Sulawesi Utara (Sulut) yang kini legal dengan pita cukai,...
Ekonomi
23 Jan 2019 / dibaca 1228 kali
MANADO (BK) : Inovasi secara konsisten terus dilakukan Enesis Group. Hadirnya 3 produk baru yaitu Tesona, Scrubber dan Plossa Press and...
Ekonomi
10 Jan 2019 / dibaca 671 kali
MANADO (BK) : Aliran listrik di Kota Manado padam lagi, Kamis (10/1/2019). Listrik padam sekitar pukul 17.55 WITA. Bukan hanya di Manado,...
Profil Perusahaan | © 2011 - 2020 BeritaKawanua.com - Terdepan Mengabarkan Fakta.