Hukum

Kisruh di Perkebunan Alason, Berry Betrandus Paparkan Kronologi Pembacokan Dirinya

Oleh : Redaksi, beritakawanua.com
Wednesday, 10 February 2021 16:01   108 kali
MANADO (BK) : Sengketa tanah di area perkebunan Alason, Desa Ratatotok I, Kecamatan Ratatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), kisruh dan berujung pembacokan, Minggu (7/2/2021) sekitar pukul 04.30 WITA.
 
Berry Betrandus (42) menjadi korban pembacokan dan mengalami luka di bagian kepala dan menyebabkan luka menganga berukuran 15 cm dan batok kepala retak. Korban kini dirawat intensif di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof dr RD Kandou Malalayang.
 
Pelaku berinisial YHW, warga Wenang Kota Manado telah ditangkap di rumahnya oleh Satreskrim Polres Mitra yang diback-up Polda Sulut, Senin (8/2/2021) malam.
 
Tiga hari setelah pembacokan tersebut, korban angkat bicara. Ia kemudian menceritakan kronologis peristiwa yang menimpanya itu via percakapan telepon, Rabu (10/2/2021).
 
Berry menuturkan kepada sejumlah awak media, kejadian tersebut berlatar dari aksi penyerobotan tanah yang saat ini sedang berproses hukum di Pengadilan Tinggi Manado.
 
Berawal saat ia mendapatkan informasi malam nanti ada konsentrasi massa dengan menggunakan alat berat yang akan masuk ke tanah yang masih bersengketa antara dirinya dengan seorang pria bernama Yandri, Sabtu sore sekira pukul 18.30 WITA.
 
Memang awalnya dirinya tidak mau ke lokasi. Tapi karena informasi itu benar dengan jumlah massa sekitar 30 orang, pada 03:40 WITA, ia mengajak temannya Sepo menuju lokasi untuk menegur para pekerja disitu. 
 
"Saat tiba, saya melihat ada dua sekuriti yang berjaga. Saya langsung bertanya kepada mereka, apakah tahu kalau tanah ini bermasalah? Mereka menjawab mengawal alat berat dan mengaku kalau mereka disuruh bos. Dan saat berdialog itu tidak ada adu mulut atau adu fisik," ungkap Berry.
 
Lanjut korban, setelah berdialog, para pelaku memboyong alat berat dan meninggalkan tanah itu. Karena mereka (massa pekerja) sudah keluar dari tanah itu, ia dan Sepo hendak kembali ke camp. Saat berjalan menuju Camp, secara tiba-tiba puluhan orang langsung datang dengan sajam dan mengepung dirinya. 
 
"Saat sedang bicara saya dihantam dari belakang di kepala dan dipukul di besi, Dan saya juga dipukul lagi kedua kalinya dibagian bahu. Setelah dipukul, mereka menodongkan tombak dibagian perut dan parang ditodongkan dibagian pinggang dan belakang, kemudian teman-teman saya datang," tambahnya.
 
Soal adanya pernyataan yang menyebutkkan terjadi penembakan kepada salah satu tersangka, kata Berry, hal itu tidak pernah terjadi. Menurutnya bagaimana dirinya mau mencabut Airsoftgun kalau mereka tiba-tiba mengepung dan langsung memukul di bagian kepala?. 
 
"Saya juga ditodong dari berbagai arah dengan tombak dan parang. Saat ditodong, mereka yang malah menyuruh saya mengeluarkan Airsoftgun yang masih tersarung dan berada dipinggang. Dan bagaimana juga saya mau menembak, karena saya tau Airsoftgun itu dalam keadaan rusak dan tidak ada magasinenya. Setelah saya keluarkan mereka langsung mengambilnya," bebernya. 
 
Dia mengatakan, kalau dia menggunakan unit (airsoftgun) itu, maka kondisinya akan lebih parah bukan seperti sekarang. Juga mengenai laporan, dia mengatakan heran karena adanya laporan penembakan dengan peristiwa penganiayaannya itu ada interval waktu yang lama, tetapi darahnya segar.  
  
Atas kejadian itu, dirinya berharap mendapatkan keadilan dan para pelaku dihukum sesuai dengan perbuatannya. Dia pun meminta pihak kepolisian untuk menelusuri otak dari kejadian ini karena kejadian tersebut memungkinkan sebagai upaya percobaan pembunuhan.
 
"Saya menduga, mereka disuruh oleh seseorang. Karena saat saya berdialog dengan mereka sebelum terjadi pembacokan, saya dan beberapa pelaku sempat berdialog. Dan saat itu tidak terjadi adu mulut dan kekerasan. Setelah mereka meninggalkan tanah yang bersengketa itu, mereka kembali dan langsung mengepung serta menganiaya saya. Jadi saya pikir, mereka disuruh oleh seseorang," tukasnya.
 
(bk-8)
 
Komentar ()
Berita Hukum
Hukum
15 Dec 2020 / dibaca 270 kali
Dua warga mendapat sanksi menggunakan papan bertuliskan 'Saya Pelanggar Protokol Kesehatan' pada pelaksanaan Operasi Yustisi oleh...
Hukum
14 Dec 2020 / dibaca 826 kali
Wakapolresta Manado AKBP Faisol Wahyudi ketika memberikan arahan kepada pengelola rumah makan dan cafe tentang penerapan protokol kesehatan...
Hukum
10 Dec 2020 / dibaca 294 kali
Kajari Manado, Maryono bersama pejabat instansi terkait tetap menjaga jarak dan menggunakan masker saat pelaksanaan pemusnahan barang bukti...
Hukum
10 Dec 2020 / dibaca 348 kali
Kajari Manado, Maryono bersama pejabat instansi terkait tetap menjaga jarak dan menggunakan masker saat pelaksanaan pemusnahan barang bukti...
Hukum
03 Dec 2020 / dibaca 256 kali
Kapolda Sulut, Irjen Pol RZ Panca Putra saat menyampaikan hasil kesepakatan bersama untuk pencegahan penyebaran Covid-19 pada pelaksanaan...
Profil Perusahaan | © 2011 - 2021 BeritaKawanua.com - Terdepan Mengabarkan Fakta.