Kesehatan

Janni Kasenda, Pendonor Plasma Konvalesen yang Awalnya Ragu Dengan Covid-19

Oleh : Redaksi, beritakawanua.com
Tuesday, 31 August 2021 21:14   721 kali
Janni Kasenda, saat donor untuk pengambilan plasma konvalesen di Ruang Donor Darah RSUP Prof Kandou Manado. (dok: pribadi)
TIDAK terpikir dibenaknya untuk menjadi penyintas Covid-19. Apalagi lagi sampai harus mendonorkan plasma konvalesen. Tapi itulah yang dialami Janni Kasenda, wartawan media online lokal di Sulawesi Utara (Sulut).
 
Janni menjadi satu-satunya wartawan yang diambil plasma konvalesen dari sekian banyaknya wartawan yang jadi penyintas Covid-19 di Manado, Sulut. Ia terpanggil dan dengan senang hati mendonorkan plasma konvalesen bagi pasien Covid-19 yang membutuhkannya.
 
Bagi wartawan yang biasa meliput di Kantor Gubernur Sulut ini, bagi sebagian yang sudah tahu, donor plasma konvalesen merupakan salah satu metode imunisasi pasif, yang dilakukan oleh seorang penyintas atau seorang yang telah sembuh dari Covid-19.
 
Yaitu dengan memberikan plasma darahnya kepada pasien Covid-19 yang sedang dirawat, yang bertujuan sebagai terapi tambahan Covid-19 dengan mengajak orang yang telah sembuh dari Covid-19 untuk menjadi pendonor plasma.
 
Memang di Sulut, dari informasi yang didapat pendonor plasma konvalesen belum mencapai ratusan orang.
 
“Untuk itu saya tergerak untuk membantu para penderita yang saat ini membutuhkan plasma konvalesen,” ujar Janni Kasenda.
 
Ia menceritakan awal sampai dirinya mau menjadi pendonor plasma konvalesen. Berawal dari informasi Ketua Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) Manado, Taufik Tumbelaka yang memberitahunya bahwa ada pasien Covid-19 yang membutuhkan plasma konvalesen.
 
“Tanpa berpikir panjang, saya langsung mengiyakan. Saya melakukan donor plasma konvalesen di Ruang Donor Darah RSUP Prof Kandou Manado,” jelasnya.
 
Jakas panggilan akrabnya lalu mengajak para penyintas Covid-19 untuk dapat membantu para pasien Covid-19 yang sedang berjuang untuk sembuh. Melalui setetes plasmanya ia berharap pasien yang terpapar covid bisa sehat kembali.
 
“Ayo para penyintas, kita berbagi plasma kita yang saat ini mereka sedang berjuang keluar dari sakit yang melilit para pasien/penderita yang terpapar Covid-19. Tuhan pasti akan membalas dengan berkat dan kesehatan pada kita,” tukasnya.
 
Memang pada saat Covid-19 ini masuk ke Indonesia awal tahun 2020, ada sedikit tidak percaya dengan virus yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 ini. Tapi ia tetap mengikuti anjuran pemerintah saat itu yakni menerapkan 3M (Mencuci tangan, Menggunakan masker dan Menjaga jarak).
 
Selain itu, ia juga mengikuti program pemerintah yaitu divaksin. Bersama dengan sejumlah wartawan lainnya, ia masuk dalam gelombang pertama vaksinasi bersama para tenaga kesehatan (nakes), anggota TNI dan Polri serta para pejabat di pemerintahan. Tapi meski sudah divaksin, ia malah terjangkit Covid-19.
 
Ia pun menceritakan kembali saat-saat dirinya terjangkit Covid-19 setelah setahun lebih pandemi di Indonesia, Juni 2021. Saat itu ia merasa gejala tidak enak badan. Pria berkepala plontos ini mengira hanya kelelahan saja.
 
Ia juga masih sempat melakukan perjalanan ke Bitung, salah satu kota di Sulut untuk meliput kegiatan Pemerintah Provinsi Sulut. Sepulangnya dari Bitung, badan makin tidak fit.
 
Tiga hari kemudian ia melakukan rapid antigen dan dinyatakan positif. “Jadi kalau ditarik ke belakang, saya sudah masuk ke orang tanpa gejala (OTG) sejak tiga hari sebelumnya, karena memang sudah hilang penciuman sejak saat itu” bebernya.
 
Ia pun langsung memutuskan untuk melaksanakan isolasi mandiri di rumah. Anggota keluarganya juga dirapid antigen, tapi hasilnya negatif. Selama isolasi dua pekan, obat, vitamin dan makanan yang begizi. Ia juga makin mempercayai kalau Covid-19 itu ada.
 
“Tapi yang saya syukuri, tidak ada lagi penolakan bagi pasien covid. Saya bahkan mendapat support dari tetangga agar cepat sembuh serta adanya bantuan-bantuan dari pemerintah serta kawan-kawan wartawan selama menjalani masa isolasi,” ungkapnya.
 
(acha/bk-8)
Komentar ()
Berita Kesehatan
Kesehatan
20 Dec 2019 / dibaca 708 kali
KENTANG ungu atau ubi ungu kerap jadi bahan makanan pengganti nasi yang lebih rendah karbohidrat. Biasanya umbi berwarna ungu ini diolah...
Kesehatan
20 Nov 2019 / dibaca 848 kali
CUACA panas tak ayal membuat kulit menjadi kering. Namun, Anda tak perlu khawatir, konsumsi makanan yang dapat mengatasi kulit...
Kesehatan
19 Nov 2019 / dibaca 2763 kali
MIE instan memang enak dan praktis tapi tidak diperbolehkan dikonsumsi setiap hari. Ada banyak kasus seputar mie instan yang berakibat fatal...
Kesehatan
19 Nov 2019 / dibaca 969 kali
UNTUK menjaga kesehatan tubuh, kita perlu makanan sehat. Selain menjadi sehat, tubuh pun akan menjadi bugar. Pengertian makanan sehat...
Kesehatan
05 Nov 2019 / dibaca 3245 kali
JALAN kaki telah menjadi aktivitas yang dikaitkan dengan pembakaran kalori, penurunan berat badan, hingga kepadatan tulang. Padahal...
Profil Perusahaan | © 2011 - 2022 BeritaKawanua.com - Terdepan Mengabarkan Fakta.