Liputan Khusus

LGBT dan Pengakuan Keimanannya kepada Tuhan

Oleh : Redaksi, beritakawanua.com
Wednesday, 14 November 2018 10:23   1034 kali
Parade komunitas LGBT di luar negeri sembari membawa bendera pelangi (istimewa)
"MAKA pergilah Abram dari Mesir ke Tanah Negeb dengan isterinya dan segala kepunyaannya, dan Lotpun bersama-sama dengan dia. Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya. Ia berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari Tanah Negeb sampai dekat Betel, dimana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai, ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu disana; di situlah Abram memanggil nama TUHAN," nukilan kitab kejadian pasal 13, yang dibacakan Ace (nama anonim) saat memimpin ibadah remaja pemuda kristen, 22 September 2018 lalu.
 
Ace sendiri adalah seorang LGBT yang masih aktif untuk memberikan pelayanan ibadah di daerahnya. Dirinya sempat menjadi Penatua pelayan khusus(pemimpin ibadah) selama 2 periode untuk kategorial Remaja dan Pemuda, sebelum kemudian harus diganjal dengan peraturan tata tertib yang dikeluarkan oleh Sinode.
 
Dalam aturan yang dikeluarkan pada tahun 2017 tersebut, terdapat satu aturan yang menyebutkan jika orang yang terdeteksi sebagai LGBT tidak bisa lagi menjadi pelayan khusus.
 
"Rasa sakit memang ada. Kan ini soal kita beribadah," kata Ace.
 
Ace menceritakan, saat aturan ini muncul, beberapa pihak kemudian turun ke tempat remaja berkumpul untuk mengkampanyekan jangan pilih dirinya, karena LGBT.
 
Bahkan, ada beberapa yang sampai menyasar rumah, hanya untuk menceritakan jika dirinya (Ace) adalah seorang LGBT, dan tidak boleh dipilih sebagai pelayan khusus.
 
"Padahal saya itu sudah 2 periode dari pemuda dan remaja jadi Pelsus. Tapi, seperti kampanye-kampanye, mereka turun ke rumah-rumah untuk membicarakan saya tidak boleh dipilih karena LGBT," ungkap Ace mengenang.
 
Menurut Ace, saat pemilihan, ternyata tetap banyak yang memilihnya untuk menjadi penatua, walaupun akhirnya tetap harus kalah karena desakan kepada para remaja datang dari banyak pihak. 
 
"Tapi itu sudah berlalu," kata Ace yang tersenyum saat mengingat momen tersebut.
 
 
Tetap Mengabdi di Tengah Penolakan
 
MENGGUNAKAN kemeja batik biru dengan motif warna-warni, Acel tampak serius membacakan kitab Kejadian Pasal 13 ayat 1 sampai 18. Malam itu, Ace memimpin ibadah remaja tingkat jemaat yang dilaksanakan di salah satu rumah warga.
 
Dirinya mengingatkan kepada para remaja yang ikut beribadah untuk tidak menggunakan handphone selain untuk keperluan membaca alkitab. Sesekali, Ace melempar pertanyaan kepada para remaja terkait dengan bacaan alkitab yang dibawakannya.
 
"Kalau kita tak ingatkan, nanti malah sibuk selfie-selfie dan hanya status di medsos. Jadi, saya ingatkan kalau sementara ibadah, handphone yang dimatikan atau hanya untuk baca alkitab saja," tutur Ace kepada wartawan usai ibadah.
 
Para remaja yang hadir, tampak antusias ikut ibadah. Ibadah yang biasanya hanya satu arah, dibuat menjadi lebih hidup, dimana para remaja diajak untuk berinteraksi langsung.Belum lagi, jika berhasil menjawab pertanyaan atau aktif menyampaikan pemikiran mereka, Ace selalu mengganjarnya dengan hadiah berupa snack ataupun cokelat.
 
"Senang sekali dengan kak Ace. Selalu ada yang berkesan tiap dipimpin kak Ace," ungkap para remaja ini.
 
"Kakak orang yang perhatian dengan tidak ada sekat dengan kami. Tidak pernah sekalipun Kakak lupa memberikan nasehat untuk rajin beribadah. Menurut Kakak, kalau kita rajin beribadah, kita pasti akan disayang Tuhan," ujar para remaja ini kembali.
 
Menurut Ace, remaja dan pemuda akan lebih tertarik beribadah, ketika mereka diberikan kesempatan untuk bisa terlibat aktif dalam ibadah, seperti pembacaan ayat, mengemukan pendapat dan mencari contoh di kehidupan nyata apa yang menjadi bahan bacaan alkitab.
 
Ace sendiri usai memimpin ibadah tingkat remaja tersebut, langsung menghadiri pesta ulang tahun yang dirangkaikan dengan ibadah tingkat pemuda di wilayah tersebut.
 
"Ibadah itu kan antara kita dengan Tuhan," kata Ace yang aktif di organisasi keberagaman Salut Sulut ini.
 
Ace menceritakan, ketika dirinya tidak lagi terpilih menjadi Pelayan Khusus, karena adanya upaya yang melarang dirinya dipilih karena LGBT, dirinya sempat menjauh dari ibadah apapun usai pemilihan pelayan khusus tersebut. Namun, dirinya kemudian merasa jika dirinya semakin berdosa karena harus meninggalkan panggilan untuk berbuat baik. 
 
"Belum lagi saya melihat anak-anak remaja seperti ada blok-blok. Padahal kan saya tidak ingin seperti itu, saya ingin semua remaja yang rajin ibadah. Ya, akhirnya saya bisa menerima perlakuan mereka lalu dan tetap berpegang jika beribadah itu tak harus menjadi pelayan khusus," kata Ace.
 
Keteguhan Ace untuk tetap mengabdi dan juga arus dukungan dari para remaja dan pemuda di wilayahnya, membuat sejumlah pihak kemudian kembali memasukan nama Ace, sebagai pengurus gerejawi. 
 
"Saat ini saya menjadi badan pemeriksa keuangan gereja dan wakil komisial," tutur Ace.
 
----****----
 
MENGABDI di jalan Tuhan juga dilakukan oleh Ian. Walaupun belum Coming Out, Ian mengaku jika kecenderungan dirinya sebagai seorang yang menyukai lelaki sudah dirasakannya sejak Sekolah Dasar. Namun dirinya masih takut untuk mengungkapkan ke keluarga, walau dirinya selama ini sangat suka bersolek dan bergaya kewanitaan.
 
Jumat 14 September, bersama dengan puluhan remaja dari jemaatnya, Ian berangkat ke daerah Motoling, Minahasa untuk mengikuti Pekan Seni dan Kreasi Remaja GMIM yang berlangsung selama 2 hari, 14 hingga 15 September. Ian, merupakan komisial remaja di jemaat tersebut.
 
Dalam kesempatan tersebut, Ian mendampingi rekan-rekannya sesama remaja untuk ikut ambil bagian dalam perlombaan paduan suara se sinodial GMIM. Ian bersama beberapa rekan sesama komisial, menjadi official dan mempersiapkan segala keperluan sebelum manggung.
 
Ian menceritakan, sejak kecil dirinya sudah sangat suka bergaya dan berdandan ala perempuan. Bahkan, dirinya tak bisa merubah gaya berjalannya yang lebih mirip perempuan daripada laki-laki. Namun demikian, dia masih merasa ketakutan untuk mengungkapkan kecenderungannya yang ingin menjadi seperti wanita, karena kakak dan saudaranya selalu memarahi dia.
 
“Mereka marah, tetapi tetap membiarkan saya bergaya dan bercerita seperti perempuan,” kata Ian.
 
Ian sendiri mengungkapkan, dirinya memiliki kemampuan dalam bidang tarik suara. Dengan suara yang melengking tinggi, dirinya kemudian memilih untuk terus bermazmur dan membawakan lagu-lagu kidung pujian. Bahkan, walaupun masih remaja, dirinya kadangkala diikutsertakan dalam perlombaan pemuda atau kaum bapak, untuk mengisi suara tinggi dalam paduan suara gerejawi.
 
“Puji Tuhan, selama ini saya tidak pernah ditolak beribadah. Mungkin, karena sejak kecil jemaat disini sudah tahu gaya saya yang seperti ini. Tapi, kalau di tempat lain, kadangkala ada yang membully. Tapi, saya anggap angin lalu, karena pelayanan ya tetap pelayanan,” kata Ian kembali.
 
 
Masyarakat di Manado Punya Toleransi Tinggi
 
LESBIAN, Gay, Biseksual dan Trans atau kini lebih dikenal dengan akronim LGBT, sejak lama menjadi perdebatan. Pandangan warga yang menyebutkan jika LGBT adalah dosa karena melihat dari sisi perilaku seksual, sering mengakibatkan LGBT mendapatkan perilaku yang tidak baik di tengah masyarakat. 
 
Namun, tak seperti di daerah lain yang secara ekstrim menjadikan LGBT sebagai sasaran kekerasan baik secara verbal, psikis maupun fisik, di Kota Manado dan sekitarnya, masih lebih ‘bertoleransi’ dan tidak sampai mengakibatkan penganiayaan para LGBT ini.
 
Survei Situasi HAM dan AKses Keadilan Kelompok LGBT di Indonesia yang digelar Arus Pelangi pada tahun 2017, menempatkan Kota Manado dan Sulawesi Utara secara luas sebagai daerah yang cukup ramah terhadap LGBT. Walaupun tetap ada kekerasan sebagaimana tersurvei ada 30 kasus kekerasan yang terjadi selang waktu 1998-2016, tetapi para responden asal Sulawesi Utara mengaku bukanlah kekerasan berat.
 
Untuk kebijakan yang diskriminatif, selain terkait dengan beribadah, tidak ada kebijakan pemerintah yang memberikan diskriminatif. Rajawali Coco, koordinator Salut Sulut, organisasi yang konsen pada isu LGBT mengatakan, untuk pembuatan KTP saja, para LGBT bisa dengan bebas mengekspresikan diri mereka saat akan melakukan perekaman KTP.
 
“Pejabat di Kota Manado tidak memperkenankan para petugas perekaman untuk mempersulit LGBT saat mengurus KTP dan lainnya,” tutur Coco.
 
Sementara, untuk urusan kesehatan sendiri, komunitas LGBT sesuai dengan hasil survey menyebutkan jika mereka memiliki pengalaman pengurusan asuransi kesehatan yang tidak ada sama sekali kesulitan. Begitu juga ketika saat mengakses layanan kesehatan baik milik pemerintahan maupun swasta, komunitas LGBT sama sekali tidak pernah mendapatkan halangan.
 
Untuk pendidikan sendiri, ada satu responden yang menjawab sempat dipersulit, walaupun akhirnya bisa diterima. 29 responden lainnya mengaku tidak pernah mendapatkan diskriminasi hingga mereka menyelesaikan studi mereka di tingkat persekolahan. Bahkan, saat bersekolah, secara bulat 30 responden mengaku tidak ada diskriminasi yang dilakukan oleh peserta didik lainnya kepada mereka.
 
Sementara untuk tempat tinggal, para LGBT di Sulawesi Utara mengaku sama sekali tidak ada tindakan pengusiran walaupun mereka dikenal sebagai LGBT. Meme, salah satu Lesbian yang hidup di kos-kosan mengaku, tidak ada yang ambil pusing terkait dengan orientasi seksual, selama di tempat kos tidak ada hal-hal yang menyalahi aturan dilakukan.
 
“Para penghuni kos lainnya juga tidak masalah. Bahkan berbaur bersama dengan kami,” kata Meme yang kini bekerja sebagai seorang waitress.
 
Dari sisi keluarga sendiri, para LGBT yang dijadikan responden, mengaku tidak pernah ada upaya korektif dari keluarga untuk menjalani penyembuhan tertentu untuk mereka.
 
Akademisi Universitas Kristen Indonesia Tomohon, Denny Pinontoan mengaku jika ada kekhawatiran akhir-akhir ini, peran agama yang dipahami dari satu sisi saja, mengakibatkan muncul ruang-ruang kekerasan yang menimpa komunitas LGBT.
 
“Dan bukan hanya kekerasan fisik tapi akhirnya ada kerugian secara psikologis. Keterbukaan informasi yang tidak disaring, bisa menjadi petaka tersendiri untuk masyarakat dalam memandang LGBT,” kata Pinontoan.
 
 
Masyarakat Masih Memandang LGBT dari Sisi Perilaku Seksual dan AIDS
 
HINGGA saat ini, cibiran dan bully masih terus terjadi kepada komunitas LGBT yang hendak beribadah, oleh masyarakat. Mereka masih dianggap tidak pantas untuk berada di dalam gereja bersama dengan masyarakat lainnya.
 
Hal ini menurut Pdt Ruth Wangkai M.Th, Ketua Badan Pengurus Nasional Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologi (Peruati), disebabkan masyarakat masih menganggap atau memandang LGBT dari sisi perilaku seksual yang menyimpang. Parahnya, masyarakat langsung mendikotomikan LGBT sebagai pengidap HIV/AIDS.
 
Menurut Pdt Ruth, pandangan ini dikarenakan sejak lama masyarakat mendapatkan informasi yang hanya berpaku pada persoalan perilaku seksual yang diceritakan berdasarkan satu kisah saja di dalam kitab suci, tanpa mengkaji banyaknya ayat yang mengemukakan soal kasih antara sesama manusia dan bagaimana keberagaman itu sudah ada sejak dulu.
 
“Ada bagian-bagian dimana masyarakat kita lebih memilih melupakan ajaran soal kasih dan keberagaman dan hanya melihat bagaimana satu sisi saja dari persoalan,” kata Pdt Ruth.
 
Ace, seorang LGBT yang merupakan pelayan ibadah serta aktivis keberagaman mengaku, banyak masyarakat tidak memahami persoalan antara orientasi seksual dan perilaku seksual yang menyimpang. Masyarakat menurut Ace, hanya memandang LGBT dari sisi perilaku seksual yang menyimpang.
 
“Padahal kan persoalan perilaku seksual yang menyimpang itu tak melulu adalah LGBT. Para heteroseksual juga banyak yang menyimpang, tetapi tidak dijadikan masalah, karena sejak awal yang dinilai menyimpang hanyalah LGBT,” tutur Ace.
 
 
Ingin Mencintai Wanita, Tapi Susah
 
RAJAWALI Coco, koordinator Salut Sulut, organisasi keberagaman di Manado sempat menceritakan pengalamannya yang ingin mencoba kembali mencintai wanita. Dirinya mengakui selama setahun, dirinya mencoba untuk menjadi pria yang berhubungan dengan wanita. 
Minggu, 23 September 2018, di salah satu tempat bakso di Manado Town Square, menggunakan baju putih, Coco sapaan akrabnya, menyampaikan ceritanya selama satu tahun mencoba untuk mencintai wanita.
 
Lelaki yang kini menjadi salah satu manager di sebuah pub ini, langsung membuka pembicaraan tentang dirinya yang coba mencintai wanita dan menghilangkan rasa ketertarikannya kepada seorang lelaki.
 
"Saya ini sudah suka sama lelaki sejak SD. Tapi, sekitaran tahun 2010 saya coba untuk menyukai wanita. Setahun saya kemudian bergaul di gereja, masuk dalam persekutuan doa dan berpacaran dengan wanita. Itu satu tahun lamanya," kata Coco.
 
Coco mengungkapkan, keinginannya untuk mencintai wanita, disebabkan oleh doktrin yang diterimanya, menyebutkan jika lelaki suka lelaki adalah penyakit dan bisa untuk disembuhkan. Pengetahuannya yang kurang akan hal itu, mendorongnya mencoba ‘menyembuhkan’ pribadinya, yang sejak SD tertarik kepada sesama lelaki.
 
“Di tahun-tahun itu, saya termakan doktrin jika ada penyembuhan. Saya belum tahu apa itu kromosom, apa itu orientasi, dan di pikiran saya hanya ada satu pandangan, jika ini bisa disembuhkan, karena mendengar orang-orang. Dan ternyata, mereka juga tidak mengerti dengan kondisi ini,” kata Coco.
 
Akhirnya, setelah mencoba selama satu tahun tersebut, dirinya merasa jika dorongan dirinya menyukai lelaki lebih besar. Belum lagi, selama satu tahun tersebut, perlakuan kepada dirinya saat akan beribadah jauh dari kata gerejawi.
 
"Setiap hari ketemu, bukannya dukungan, saya justru terus di bully. Dikata-katain. Pokoknya tidak nyaman," kata Coco.
 
Sempat bertahan selama 1 tahun mencoba, Coco kemudian terus terang kepada pacar wanitanya, jika dirinya sama sekali tidak menyukainya.
 
"Waktu itu pacar saya itu tidak terima, karena kan kita selama ini baik-baik. Tapi, saya kemudian bilang, kalau saya tidak bisa karena saya lebih tertariknya kepada lelaki," kata Coco.
 
Beruntung menurut Coco, pacarnya tersebut menerima dan kemudian putus dengan baik-baik, dan tetap menjalin hubungan pertemanan baik dengannya.
 
"Kalau sekarang saya sering guyon kepadanya, saya selalu bilang begini, ngana so dua kali kaweng, kita tetap lebe suka pa lekong, (Kamu sudah dua kali menikah, saya tetap masih suka kepada lelaki)," kata Coco sembari terbahak.
 
(jusuf kalalo)
 
Artikel ini merupakan liputan mengenai “Keberagaman Gender dalam Perspektif Hak Asasi Manusia", didanai oleh fellowship Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Ardhanary Institute.
Komentar ()
Berita Liputan Khusus
Liputan Khusus
13 May 2018 / dibaca 639 kali
MANADO (BK) : DPW Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Sulawesi Utara, mengucapkan duka cita yang mendalam atas aksi teror bom di Surabaya....
Liputan Khusus
21 Apr 2018 / dibaca 219 kali
MANADO(BK): Anggota DPR RI ini Djenri Keintjem, SH.MH turut hadir dalam acara Musrembang Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2018.  ...
Liputan Khusus
02 Mar 2018 / dibaca 422 kali
MANADO (BK): Partai Solidaritas Indonesia (PSI) secara resmi membuka Pendaftaran Calon Anggota Legislatif. PSI membuka gelombang kedua rekrutmen...
Liputan Khusus
25 Feb 2018 / dibaca 294 kali
SONDER (BK):  Anggota DPR/MPR RI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Djenri Keintjem SH,MH menggelar sosialisasi empat pilar...
Liputan Khusus
15 Feb 2018 / dibaca 247 kali
MANADO (BK):  Beberapa waktu belakangan ini, telah terjadi serangkaian peristiwa berupa intimidasi kepada para tokoh agama dan teror...
Profil Perusahaan | © 2011 - 2018 BeritaKawanua.com - Terdepan Mengabarkan Fakta.