Liputan Khusus

Sampah Berdampak Banjir dan Pengaruhi Pariwisata di Manado

Oleh : Redaksi, beritakawanua.com
Thursday, 10 December 2015 02:49   1273 kali
Sungai kecil di salah satu kawasan dalam kota Manado yang tertutup sampah. (foto : acha)
MANADO (BK) : Tidak ada lagi kata Adipura tahun ini. Manado telah gagal mempertahankan kota yang dinilai berhasil dalam mewujudkan kota yang bersih dan memiliki pengelolaan lingkungan hidup. Padahal tahun ini Ibukota Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) telah 8 kali meraihnya secara berturut-turut.
 
 
Sejak mencanangkan sebagai Kota Pariwisata Dunia tahun 2010 lalu, Kota Manado memang terus berbenah dan membuka diri untuk wisatawan domestik dan mancanegara. Taman Nasional Bunaken jadi ikon Ibukota Provinsi Sulawesi Utara ini karena keindahan taman lautnya.
 
 
Memang, tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk mencapai semua itu. Banyak kendala yang dihadapi, salah satunya adalah penanganan sampah. Tanpa disadari, sampah ternyata salah satu ancaman terbesar yang bisa mengganggu kelangsungan hidup di Kota Manado.
 
 
Data yang dikeluarkan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Manado menunjukkan produksi sampah baik rumah tangga maupun indsutri di Kota Manado terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Sementara di sisi lain, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang berada di Kelurahan Sumompo, Kecamatan Tuminting sudah tidak mampu lagi menampung sampah-sampah itu atau telah kelebihan kapasitas.
 
 
Jumlah penduduk yang terus bertambah, otomatis juga meningkatkan produksi sampah. Jika di tahun 2011 jumlah penduduk Manado mencapai 437.066 jiwa, di akhir tahun 2013 sudah sebanyak 536.931 orang. Sementara tahun 2014 sudah menyentuh angka 600.000 jiwa. Sementara luas TPA yang hanya 74.593 m2, memang tak mampu menampung seluruh sampah.
 
 
Jumlah ini juga masih akan bertambah di siang hingga malam hari hingga 10 persen. Pasalnya, Kota Manado masih menjadi daya tarik bagi penduduk luar kota atau daerah. Ada yang bekerja dan ada juga yang sekedar datang untuk memenuhi kebutuhan hidup, mengingat Kota Manado adalah pusat bisnis dan perekonomian.
 
 
"Jadi, salah satu penyebab terjadinya peningkatan volume sampah di Kota Manado karena pertumbuhan penduduk yang terus mengalami peningkatan," ujar Kepala Dinas, Julises Oehlers, belum lama ini.
 
 
Julises mengungkapkan, dalam empat tahun terakhir produksi sampah telah mengalami peningkatan yang berbanding lurus dengan pertumbuhan jumlah penduduk. Tahun 2011, volume sampah sebanyak 828.812 meter kubik (m3) dan meningkat secara signifikan di tahun 2012 sebesar 840.960 m3, dan tahun 2013 yang menyentuh angka 940.703 m3.
 
 
“Tahun 2014 lalu, sudah lewat angka 980.865 m3. Kami prediksi tahun ini jumlahnya akan terus meningkat lagi,” terangnya.
 
 
Memang katanya, untuk mengatasi permasalahan sampah ini, pihaknya telah melakukan beberapa cara termasuk pemilahan sampah organik dan anorganik. Juga mengajukan pengadaan mesin pencacah sampah dan truk pengangkut tahun lalu. 11 mesin pencacah akhirnya berhasil ditempatkan di TPA Sumompo. "Memang cukup membantu menekan jumlah sampah mulai dari rumah tangga, termasuk memilah sampah yang bisa didaur ulang,” pungkas Oehlers.
 
 
Masih teringat jelas dibenak warga Kota Manado, banjir bandang yang menerjang tahun 2014 lalu. Sungai telah beralih fungsi sebagai tempat pembuangan sampah oleh warga Kota Manado, yang berujung pendangkalan sungai. Belum lagi bangunan-bangunan rumah di pinggiran Daerah Aliran Sungai (DAS), telah menyebabkan terjadinya penyempitan ruang.
 
 
"Imbasnya, ketika masuk musim penghujan, sungai yang mengalami pendangkalan tidak akan mampu menampung volume air yang membludak," kata Kabid Pengendalian dan Pencemaran Badan Lingkungan Hidup (BLH) Propinsi Sulut, Sonny Runtuwene pada Focus Group Discussion (FGD) bersama editor media di Hotel Sparks Lite Manado, Senin (7/12/2015).
 
 
Runtuwene memaparkan pembangunan pesat yang terjadi di Sulut, terutama di Kota Manado turut menjadi andil rentannya bencana banjir. Pria enerjik ini menyorot bangunan-bangunan di pinggiran Daerah Aliran Sungai (DAS) yang menyebabkan penyempitan ruang untuk menampung debit air yang tinggi saat hujan, serta alih fungsi lahan resapan air yang menjadi permukiman dan industri.
 
 
"Di undang-undang untuk di kota besar pembangunan harus 25 meter dari samping sungai, kota sedang 50 meter dan desa 100 meter tapi kenyataannya tidak demikian,” ujarnya.
 
 
Hampir di seluruh wilayah Indonesia, warga lebih memilih bermukim di pinggiran sungai. Dan sudah menjadi rahasia umum, buang sampah di sungai adalah hal yang paling mudah dilakukan. Begitu juga warga Manado yang bermukim di pinggiran sungai. Setidaknya, ada 3 sungai besar yang membelah kota Manado. DAS Sario yang berada di Kecamatan Sario dan Wanea, serta DAS Sawangan dan Tondano yang melintasi Kecamatan Tikala, Paal Dua, Singkil dan Wenang. Ketiga sungai ini bermuara di Teluk Manado.
 
 
"Kita tinggal melempar bungkusan sampah, nanti juga terbawa arus," ujar Rizky.
 
 
Pria yang bermukim di pinggiran DAS Sawangan ini menyadari, dan menyalahkan kebiasaan buruk itu. Dia mengetahui sampah-sampah itu nantinya bisa menimbulkan bencana banjir di kemudian hari. Tapi ia menyebut pemerintah tidak tanggap karena tidak menyediakan tempat pembuangan sampah sementara di permukiman mereka.
 
 
"Kalau pun ada, kadang sampah tidak diangkut sampai berhari-hari hingga mengeluarkan bau busuk. Itu yang membuat kami terpaksa membuang sampah ke sungai. Kalau bisa, petugas kebersihan setiap hari mengambil sampah, jangan dibiarkan bertumpuk berhari-hari," paparnya.
 
 
Pemerhati lingkungan, Reeymond 'Kex' Mudami, menangkap adanya ancaman besar sampah buangan warga Kota Manado pada ekosistem dan terumbu karang di perairan Taman Nasional Bunaken. Jebolan Fakultas Perikanan Universitas Sam Ratulangi ini menyebut jika tidak diseriusi, aset pariwisata dunia ini akan hancur.
 
 
"Sampah di sungai akan bermuara ke Teluk Manado. Sampah ini nantinya akan terbawa arus laut ke pulau Bunaken dan akan merusak biota laut disana. Ikan-ikan pun bisa mati atau berpindah tempat," ucapnya.
 
 
Meski begitu, Jurnalis dan juga pentolan Yayasan Lestari Manado, yayasan yang bergerak pada pelestarian lingkungan ini salut dengan pemerintah yang pro aktif menjaga aset dari kerusakan akibat sampah. "Program sapu laut dari pemerintah dan pihak lain dalam beberapa tahun terakhir ini mampu membuat ekositem Taman Laut Bunaken tetap terjaga," ungkapnya.
 
 
Sementara itu, pemerhati sosial yang juga Ketua AJI Manado, Yoseph Ikanubun mengatakan penanganan sampah harus dilakukan secara masif oleh seluruh warga Kota Manado. Diperlukan kesadaran serta budaya malu jika tidak membuang pada tempatnya. Juga perlu dipertegas dengan Peraturan Daerah (Perda) untuk pemberian sanksi bagi yang membuang sampah sembarangan.
 
 
"Jika perlu, tinjau kembali Peraturan Daerah (Perda) Nomor 7 Tahun 2006 yang dikeluarkan Pemerintah Kota Manado tentang Kebersihan," tukasnya.
 
 
(acha/bk-8)
 
Komentar ()
Berita Liputan Khusus
Liputan Khusus
08 Dec 2018 / dibaca 276 kali
TONDANO ( BK): Anggota DPR RI, Jerry Sambuaga mengatakan, sikap intoleransi merupakan cikal bakal terjadi terorisme di Indonesia. Oleh karena...
Liputan Khusus
30 Nov 2018 / dibaca 349 kali
KAIMA (BK): Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dengan Skema PPPUD ini merupakan satu-satunya kegiatan di Propinsi Sulawesi Utara yang telah...
Liputan Khusus
14 Nov 2018 / dibaca 1403 kali
"MAKA pergilah Abram dari Mesir ke Tanah Negeb dengan isterinya dan segala kepunyaannya, dan Lotpun bersama-sama dengan dia. Adapun Abram...
Liputan Khusus
11 Nov 2018 / dibaca 512 kali
TALAUD (BK): Berdasarkan pengumuman tim seleksi calon anggota KPU Talaud. Tahapan pendaftaran selesai pada Minggu, 11 November 2018. Pukul...
Liputan Khusus
11 Nov 2018 / dibaca 405 kali
MANADO (BK) : Pascasarjana UNIMA menggelar Workshop Penyusunan Revisi Borang Akreditasi di Hotel Grand Puri Manado pada 10-11 November 2018....
Profil Perusahaan | © 2011 - 2019 BeritaKawanua.com - Terdepan Mengabarkan Fakta.