Manado

Cara Muhammadiyah Manado Cegah Radikalisme dan Terorisme

Oleh : Redaksi, beritakawanua.com
Friday, 25 March 2022 20:49   418 kali
Sekretaris PDM Muhammadiyah Kota Manado, Gavrin Abudi (kaos merah). (foto: ist)
MANADO (BK) : Belakangan ini beberapa kader Muhammadiyah terindikasi terpapar paham radikalisme dan terorisme. Di Bengkulu, 3 pengurusnya dinonaktifkan karena menjadi tersangka kasus terorisme.
 
Hal ini kemudian disesalkan oleh Sekretaris PDM Muhammadiyah Kota Manado, Gavrin Abudi. Ia menyebut Muhammadiyah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah final dan sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi.
 
Gavrin mengatakan Muhammadiyah punya tokoh yang sudah berbuat untuk NKRI, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka yakni KH Ahmad Dahlan. “Apa lagi yang harus kita bicarakan, apa yang kurang dengan Muhammadiyah untuk NKRI?” kata Gavrin di Manado, Jumat (25/3/2022).
 
Ia mengatakan, jika ada kader yang terlibat dengan radikalisme dan terorisme itu adalah oknum. Lanjutnya, yang namanya manusia bisa saja menyusup ke organisasi atau perserikatan Muhammadiyah, dan itu memang ada.
 
Tapi, katanya, tidak di Manado. Karena di Muhammadiyah Manado punya cara untuk menangkalnya, dan itu sudah dilakukan sudah dari dulu kala.
 
“Siapa pun yang ingin menjadi Pengurus Muhammadiyah itu ada fit and proper test secara langsung. Makanya menjadi pimpinan Muhammadiyah itu tidak gampang, orang politik saja masuk di Muhammadiyah itu tidak bisa sama sekali,” terangnya.
 
Ia kemudian mengatakan, kalau sampai ada orang radikal yang masuk ke Muhammadiyah, itu namanya salah masuk. Karena Muhammadiyah adalah organisasi yang sangat cinta tanah air sesuai dengan slogan Hubbul Wathan Minal Iman, yakni mencintai tanah air, sebagian dari Iman.
 
“Dan kami ada di dalamnya, apapun yang mau terjadi dengan Negara ini, yang namanya warga Muhammadiyah yang pernah dikaderkan di Muhammadiyah, pasti akan menyatakan iya, tanpa harus bicara kami NKRI atau NKRI harga mati. Kami pasti menolak radikalisme dan terorisme,” tegas Gavrin.
 
Ia kemudian mencontohkan salah satu upaya menangkal radikalisme adalah pendidikan. Memang ada pelajaran khusus kemuhammadiyahan menyangkut akhlak sejak pendidikan usia dini, tapi tidak juga melupakan pendidikan tentang pemahaman hal-hal yang bersifat sosial.
 
Di Stikes Muhammadiyah Manado yang sekarang telah menjadi Universitas Muhammadiyah Manado, contohnya, hampir 30 persen pegawainya serta 60 persen dosennya bukan muslim.
 
“Ini adalah salah satu cara mencegah tumbuhnya paham radikalisme dan terorisme, mengingat benih-benih radikalisme memang paling banyak masuk melalui dunia pendidikan,” pungkas Gavrin.
 
Editor: Asrar Yusuf
 
Komentar ()
Berita Manado
Manado
19 Mar 2022 / dibaca 372 kali
MANADO (BK) : Polsek Tuminting, Polresta Manado melakukan pengecekan ketersediaan minyak goreng di sejumlah supermarket dan toko di wilayah...
Manado
17 Mar 2022 / dibaca 598 kali
MANADO (BK) : Komandan Korem 131/Santiago, Brigjen TNI Mukhlis, SAP MM mengunjungi universitas terbesar di Sulawesi Utara, Universitas Sam...
Manado
13 Mar 2022 / dibaca 509 kali
  MANADO (BK) :  Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GmnI) makin masif membentuk kadernya diberbagai Universitas.  ...
Manado
12 Mar 2022 / dibaca 390 kali
MANADO (BK) : Wali Kota Manado, Andrei Angouw mengunjungi Markas Korem 131/Santiago, Jumat (11/3/2022). Kedatangan wali kota didampingi...
Manado
06 Mar 2022 / dibaca 571 kali
MANADO (BK) : Kodim 1309/Manado terus memelihara bentuk kemanunggalan TNI dengan rakyat. Salah satunya dibuktikan pada kerja bakti...
Profil Perusahaan | © 2011 - 2022 BeritaKawanua.com - Terdepan Mengabarkan Fakta.