Nasional

AJI Bandung Kecam Tindakan Represif Polisi di Sidang Buni Yani

Oleh : Redaksi, beritakawanua.com
Wednesday, 15 November 2017 08:51   342 kali

BANDUNG (BK): Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bandung mengecam tindakan sekelompok orang yang menghalang-halangi jurnalis dalam melaksanakan tugas pada sidang pembacaan vonis Buni Yani di Gedung Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bandung, Selasa (14/11/2017).

 

AJI Bandung juga mengecam tindak kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian terhadap jurnalis Suara Pembaharuan, Adi Marsiela.

 

Ketua AJI Bandung, Ari Syahril Ramadhan mengatakan, Pasal 4 Ayat 3 Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers menyebut, untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi. Tindakan yang dilakukan massa pendukung Buni merupakan salah satu pemberangusan hak jurnalis mencari infomasi.

 

“Ada konsekuensi pidana dari menghalangi tugas jurnalis, yakni pidana paling lama dua tahun dan denda paling besar Rp 500 juta. Kami menuntut kepolisian untuk mengusut kasus ini,” ujar Ari.

 

Ari juga mengecam aparat kepolisian yang melakukan tindak kekerasan terhadap Adi Marsiela. Meski kondisi Adi saat ini baik-baik saja dan masih bisa mengirim laporan ke kantornya, namun, di jidatnya nampak ada bekas cakaran.

 

“Polisi sebagai aparat penegak hukum seharusnya memberikan perlindungan pada Adi dan jurnalis yang tengah melakukan tugas. Bukan malah melakukan tindak kekerasan terhadap jurnalis. Beruntung Adi tidak terluka karena terhalangi oleh jurnalis lain,” tukas Ari.

 

Berikut Kronologis pemukulan jurnalis Adi Marsiela berdasarkan data AJI Bandung :

 

Sekitar pukul 15.30 WIB, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bandung memutus terdakwa dugaan pelanggar Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik, Buni Yani. Setelah sidang yang berjalan selama kurang lebih enam jam tersebut, Buni dinyatakan bersalah, dan menerima vonis 1,5 tahun penjara.

 

Sejak hakim membacakan amar putusan, kondisi ruangan sidang sudah tidak kondusif. Massa pendukung Buni yang menyesaki ruang sidang teriak-teriak dan mengumpat hakim.

 

Keadaan semakin kacau setelah hakim meninggalkan ruang sidang. Pihak kepolisian langsung membuat barikade untuk mengamankan jaksa penuntut umum.

 

Seiringan dengan itu, puluhan jurnalis yang menggantung tanda pengenal di dadanya hadir di ruang sidang dengan spontan langsung mendekati sumber berita. Di antaranya, jaksa dan terdakwa juga kuasa hukumnya.

 

Saat itu, posisi Buni Yani tengah di kelilingi oleh kuasa hukumnya yang berjumlah lebih dari lima orang. Ada sekitar lima jurnalis mencoba untuk meminta pernyataan dari Buni Yani. Adi Marsiela salah satu jurnalis yang menghampiri Buni Yani untuk melakukan wawancara.

 

Buni Yani sempat melontarkan pernyataannya kepada jurnalis. Buni pun nampak bersedia untuk diwawancara jurnalis. "Ini kriminalisasi. Ini sebuah pemantik revolusi, karena ini tidak adil," ujar Buni yang terekam di recorder milik Adi Marsiela.

 

Namun, belum tuntas proses wawancara tersebut, kuasa hukum Buni Yani meminta jurnalis untuk minggir. Namun, karena suasana tak kondusif dengan banyaknya jurnalis yang kemudian ikut menyodorkan alat rekam ke Buni Yani, kuasa hukum Buni Yani meminta pengamanan dari massa pendukung Buni.

 

Menurut salah satu saksi, kuasa hukum Buni Yani ketakutan kliennya akan ditahan. Karena saat persidangan mereka belum jelas mendengar perintah penahanan dari hakim. Karena pembacaan amar putusan terganggu oleh teriakan pengunjung sidang.

 

Hanya hitungan detik, beberapa orang pendukung Buni dengan reaktif mendorong dan menarik jurnalis yang berupaya mendapatkan keterangan dari Buni Yani.

 

Sempat terjadi percekcokan antara jurnalis dengan salah satu pendukung Buni. Kondisi semakin tidak terkendali, jurnalis semakin disudutkan dengan dorongan dan tarikan. Adi Marsiela yang masih berada di dekat Buni Yani terus didorong oleh para pendukung Buni.

 

Sejumlah anggota kepolisian yang berjaga bereaksi setelah melihat ada keributan antara jurnalis massa pendukung Buni. Salah satu dari mereka menarik Adi hingga ke luar ruang sidang.

 

Setelah itu, anggota kepolisian yang awal menggiring menyerahkan Adi pada rekannya. Saat ditarik oleh rekannya itu, leher Adi dikepit secara kuat dan dibawa layaknya pelaku kejahatan atau maling ayam.

 

Dalam kondisi tersebut Adi berusaha melepaskan diri dari cekikan polisi itu. Polisi langsung meradang. Dan belasan anggota polisi yang lain langsung mengerubungi Adi.

 

"Saya gak diterima diperlakukan seperti itu," ujar Adi.

 

Adi lalu dikerubuni oleh sejumlah polisi. Salah satu jurnalis yang mengenal Adi mencoba menolongnya. Ia melindungi Adi dari sejumlah anggota Polisi yang mencoba memukuli Adi.

 

Aksi dugaan percobaan pengeroyokan tersebut hanya terjadi sekitar kurang dari satu menit. Adi segera dievakuasi ke sebuah ruangan.

 

Narahubung: Ari Syahril Ramadhan 087824412391 Iqbal T Lazuardi 081809529297

 

(acha/bk-8)

Komentar ()
Berita Nasional
Nasional
14 Sep 2018 / dibaca 196 kali
BALI (BK) : Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), telah menetapkan pengendalian rokok sebagai salah satu...
Nasional
10 Sep 2018 / dibaca 199 kali
SURAKARTA (BK) : Komitmen Indonesia untuk mewujudkan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) mendapat pengakuan dari dunia internasional. Ini setelah...
Nasional
07 Sep 2018 / dibaca 154 kali
RAJA AMPAT (BK) : Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat, masuk dalam kabupaten dengan kepemilikan Akta Kelahiran yang rendah dan masuk ke...
Nasional
06 Sep 2018 / dibaca 258 kali
JAKARTA (BK) : Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) diminta terus meningkatkan kampanye dan sosialisasi...
Nasional
05 Sep 2018 / dibaca 267 kali
MANADO (BK): Kementerian Sosial (Kemensos) melalui Direktorat Jenderal Penanganan Fakir Miskin menggelar kegiatan Sinkronisasi Program dan...
Profil Perusahaan | © 2011 - 2018 BeritaKawanua.com - Terdepan Mengabarkan Fakta.