Nasional

APACT 12th, Upaya Menyelamatkan Anak dan Perempuan dari Ancaman Rokok

Oleh : Redaksi, beritakawanua.com
Friday, 14 September 2018 23:42   384 kali
Menteri Yohana memberikan sambutan pada Acara APACT ke-12 di Bali. (foto : ist)
BALI (BK) : Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), telah menetapkan pengendalian rokok sebagai salah satu program prioritas. Hal ini disebabkan tingginya jumlah anak yang terkena dampak bahaya rokok di Indonesia.
 
 
Hal ini disampaikan Menteri PPPA, Yohana Yembise pada acara 12th Asia Pasific Conference on Tobacco or Health (APACT12th) di Nusa Dua Bali, 13-15 September 2018. Acara tersebut bertema “Pengendalian Tembakau untuk Pembangunan Berkelanjutan : Memastikan Lahirnya Generasi Sehat”.
 
 
“Acara ini digelar sebagai bentuk komitmen negara-negara Asia Pasifik dalam upaya pengendalian tembakau yang semakin mengkhawatirkan khususnya di Indonesia,” ujar Menteri Yohana dalam sambutannya yang berjudul Peluang dalam Menerapkan Kebijakan Pengendalian Tembakau untuk Pembangunan Berkelanjutan, Melindungi Generasi Muda dan Memberdayakan Perempuan.
 
 
Menteri memaparkan, sebanyak 2-3 dari 10 anak Indonesia usia 15-19 tahun merupakan perokok aktif berdasarkan data Kemenkes tahun 2017. Jumlah perokok usia anak (di bawah 18 tahun) juga meningkat dari 7,2% pada 2013 menjadi 8,8% di 2016 oleh data SIRKESNAS tahun 2016.
 
 
“Fakta yang juga mengkhawatirkan yaitu 34,71% anak usia 5-17 tahun diketahui menghisap lebih dari 70 batang rokok perminggu berdasarkan hasil yang dikeluarkan SUSENAS di tahun 2016,” ungkap Mama Yo, panggilan Menteri PPPA.
 
 
Menteri Yohana juga menambahkan, 32,82% siswa laki-laki dan 17,32% dari seluruh jumlah siswa di Indonesia, merokok untuk pertama kali pada usia dibawah 13 tahun, umumnya di bangku sekolah dasar (Kemenkes, 2016). Selain itu, sekitar 49% atau 43 juta dari total 87 juta anak di Indonesia telah terpapar asap rokok (perokok pasif).
 
 
“Masih data Kemenkes tahun 2016, ada 11,4 juta atau 27% diantaranya, merupakan anak berusia dibawah 5 tahun atau balita,” terangnya.
 
 
Adapun tembakau maupun rokok disebutnya merupakan zat berbahaya, yang berdampak buruk bagi kesehatan anak di masa depan, dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Dampak penggunaan rokok baru akan dirasakan 15-20 tahun mendatang, saat anak menginjak usia produktif.
 
 
Lanjutnya, sebanyak 225.700 orang meninggal dunia setiap tahun akibat rokok di Indonesia, dan 7% nya, atau sekitar 15.844 orang adalah perempuan berdasarkan Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia di tahun 2018. Hal ini membuktikan bahwa tidak hanya anak, perempuan juga termasuk kelompok rentan, yang menjadi second-hand smoke (perokok pasif) dan berisiko lebih berbahaya dibandingkan first-hand smoke (perokok aktif).
 
 
“Untuk itu, perlindungan terhadap tembakau pun tidak hanya ditargetkan kepada anak, tetapi juga kepada perempuan,” kata Menteri Yohana. 
 
 
Kemen PPPA terus mendorong pemenuhan hak dan perlindungan khusus anak serta meningkatkan peran perempuan dalam pembangunan berkelanjutan melalui pengarusutamaan gender. Mengingat perempuan merupakan kunci dalam mencetak generasi emas yang sehat dan berdaya saing di masa mendatang.
 
 
Perempuan dikatakannya harus berdaya dan mampu melindungi diri maupun anaknya dari bahaya rokok. Terkait pengendalian rokok, Kemen PPPA telah melakukan Kampanye "Anak Indonesia Hebat Tanpa Rokok" pada 2017 lalu, yang diikuti 1.000 anak usia 13-17 tahun.
 
 
Sejak 2006, Kemen PPPA telah membuat kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) yang dikembangkan pada 2010. Saat ini penyusunan Peraturan Presiden (Perpres) mengenai KLA telah siap 90%. Melalui kebijakan ini, pemerintah daerah didorong untuk meningkatkan pembangunan berbasis Hak Anak.
 
 
Ada 24 Indikator untuk mewujudkan KLA, salah satunya adalah pengendalian tembakau melalui kawasan tanpa rokok (KTR), pelarangan iklan, promosi, dan sponsor rokok. Hal ini akan mendorong setiap daerah di Indonesia untuk membatasi rokok. Hingga saat ini, 43,2% kabupaten/kota di Indonesia telah memiliki regulasi terkait pengaturan rokok.
 
 
“Mari kita saling bertukar pikiran, ide, pengalaman, dan bersatu dalam merumuskan strategi pengendalian tembakau untuk memastikan negara di Asia-pasifik mampu mencetak generasi sehat di masa depan dengan produktivitas optimal, guna mencapai SDG’s,” terang Menteri lagi.
 
 
Lanjutnya, masa depan dunia berada di tangan anak-anak kita saat ini. Hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan Negara.
 
 
“Melindungi anak dari rokok merupakan salah satu upaya mewujudkannya,” tutup Menteri Yohana.
 
 
Selain delegasi dari 30 negara di Asia Pasifik, APACT ke-12 ini juga dihadiri Menteri Kesehatan, Nila F. Moeloek serta Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brodjonegoro.
 
 
(acha/bk-8)
Komentar ()
Berita Nasional
Nasional
18 Mar 2019 / dibaca 254 kali
JAKARTA (BK): Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Utara (Sulut) Christiany Eugenia Paruntu SE (CEP) menghadiri rapat konsolidasi dengan kader...
Nasional
15 Mar 2019 / dibaca 143 kali
SURABAYA (BK): Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), Joins Langkun mengikuti Workshop Nasional...
Nasional
14 Mar 2019 / dibaca 164 kali
JAKARTA (BK): Bupati Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) DR.Christiany Eugenia Paruntu,SE mengikuti Rapat Koordinasi Nasional Bidang...
Nasional
14 Mar 2019 / dibaca 223 kali
JAKARTA (BK): Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto menjamin pelaksanaan kampanye akbar yang...
Nasional
13 Mar 2019 / dibaca 104 kali
SIBOLGA (BK): Istri terduga teroris Husain alias Abu Hamzah di Sibolga, Sumut, meledakkan diri dengan bom lontong rakitan. Jasadnya sudah tak...
Profil Perusahaan | © 2011 - 2019 BeritaKawanua.com - Terdepan Mengabarkan Fakta.