Nasional

Kementerian PPPA Canangkan Geber Stop KDRT

Oleh : Redaksi, beritakawanua.com
Sunday, 04 November 2018 19:32   211 kali
Menteri Yohana menandatangani spanduk pencanangan Geber Stop KDRT. (dok : Humas KemenPPPA)
JAKARTA (BK) : Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise menyebut kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) semakin mengkhawatirkan dengan modus dan karakteristik yang semakin beragam. Namun, masyarakat Indonesia masih menganggap KDRT merupakan urusan pribadi rumah tangga yang tidak perlu dilaporkan kepada pihak berwajib, karena alasan malu, tabu atau alasan lainnya.
 
 
“Kalau dulu dianggap mitos dan persoalan pribadi, kini menjadi urusan publik yang telah diatur dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT),” ujar Menteri pada Pencanangan Gerakan Bersama (Geber) Stop Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (4/11/2018).
 
 
Menurut Menteri, berdasarkan hasil Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) pada 2016, menunjukkan 1 dari 3 perempuan usia 15 - 64 tahun pernah mengalami kekerasan fisik atau kekerasan seksual. Kemudian 1 dari setiap 4 perempuan yang pernah/sedang menikah, mengalami kekerasan berbasis ekonomi serta 1 dari 5 perempuan yang pernah/sedang menikah mengalami kekerasan psikis. 
 
 
Sementara faktor dominan yang menjadi penyebab KDRT adalah faktor-faktor yang bersifat kolektif (multy factors). Dari angka-angka tersebut itu dikatakan Menteri, sudah lebih dari cukup untuk meyakinkan bahwa KDRT merupakan masalah yang serius dan mendesak untuk dicarikan solusinya, baik dalam jangka pendek, menengah maupun panjang.
 
 
“Oleh karena itu, KDRT hanya bisa diselesaikan secara kolektif atau berkelompok, tidak bisa sendiri-sendiri. Upaya mencari solusi KDRT ini perlu mempertimbangkan aspek sosial, budaya, ekonomi, dan agama,” tegas Mama Yo, panggilan Menteri Yohana.
 
 
Hapus KDRT Sejak Dini
 
Menteri Yohana mengatakan KDRT memiliki empat jenis, yakni kekerasan fisik, psikis, seksual, dan penelantaran. KDRT dalam konteks sederhana, katanya menyerupai lingkaran sebab akibat yang kompleks dan rumit.
 
 
“Contohnya, anak-anak yang tumbuh dan berkembang dalam keluarga yang mengalami KDRT cenderung akan meniru ketika mereka dewasa. Anak-anak yang melihat ibunya dipukul ayahnya dan ibunya diam saja, tidak melapor, maka anaknya cenderung melakukan hal yang sama ketika dalam berumah tangga ia mengalami KDRT,” terangnya.
 
 
Menteri juga mengatakan, komunitas muda-mudi sebagai calon ibu dan calon ayah dapat memutus mata rantai KDRT. Keberadaan dan pelibatan mereka merupakan langkah strategis karena penanganan KDRT bagi mereka yang sudah berumah tangga memerlukan waktu, pengorbanan, dan biaya yang tidak murah.
 
 
Kaum muda-mudi yang berada pada fase menjelang kehidupan berumah tangga harus diberikan pemahaman, pengetahuan, dan peran yang signifikan dalam penghapusan KDRT. Misalnya, kesiapan dalam membangun rumah tangga, kedewasaan calon pengantin, kesiapan ekonomi, pengetahuan masing-masing pasangan, lingkungan keluarga, lingkungan sosial, budaya, dan lain-lain.
 
 
“Mereka merupakan garda terdepan dalam menghapus atau mencegah KDRT. Semakin cepat kaum muda-mudi mengenali potensi KDRT, semakin siap pula mereka menangkal dan menghindarinya,” harap Menteri Yohana.
 
 
(acha/bk-8)
 
Komentar ()
Berita Nasional
Nasional
14 Nov 2018 / dibaca 216 kali
MALANG (BK) : Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menggelar Pelatihan Integrasi Gender dalam Perubahan...
Nasional
14 Nov 2018 / dibaca 291 kali
JAKARTA (BK): Bupati Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), Dr Christiany Eugenia Paruntu SE, mengikuti Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas)...
Nasional
09 Nov 2018 / dibaca 264 kali
DENPASAR (BK):  Bendahara Umum (Bendum) APKASI, DR Christiany Eugenia Paruntu SE, mengajak seluruh bupati berperan aktif  dalam...
Nasional
08 Nov 2018 / dibaca 232 kali
JAKARTA (BK) : Rapat Koordinasi Teknis Perlindungan Anak (Rakortek PA) 2018 di Jakarta, berakhir, Rabu (7/11/2018). Ada 4 rekomendasi yang...
Nasional
07 Nov 2018 / dibaca 259 kali
TASIKMALAYA (BK) : Banjir dan longsor di Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, merenggut 5 nyawa. 1 orang lainnya hilang dan dalam...
Profil Perusahaan | © 2011 - 2019 BeritaKawanua.com - Terdepan Mengabarkan Fakta.