Profil

Cerita Polisi di Manado yang Divaksin 3 Kali

Oleh : Redaksi, beritakawanua.com
Sunday, 19 December 2021 17:17   1706 kali
Aiptu Arny Victor Kembuan, anggota Satlantas Polresta Manado.
DUA TAHUN sudah pandemi Covid-19 melanda dunia. Virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina, Desember 2019 silam ini telah berhasil mengubah tatanan kehidupan manusia.
 
Berbagai upaya dilakukan setiap Negara, tak terkecuali Indonesia untuk mencegah penyebaran virus yang lebih dikenal dengan nama Corona. Mulai dari penggunaan masker, mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer hingga menjaga jarak. Terakhir, salah satu upaya yang paling getol dilakukan adalah vaksinasi.
 
Di awal pandemi, setiap orang yang terjangkit virus ini akan diisolasi di rumah sakit dan ruang-ruang isolasi yang telah disediakan oleh pemerintah agar tidak menular kepada orang lain. Begitu pun dengan pasien rumah sakit yang kemudian meninggal dunia dengan diagnose terjangkit Corona akan dimakamkan ke pemakaman khusus.
 
Ketakutan melanda manusia karena virus H5N1 ini dengan cepat mewabah. Namun, bagaimana pun wabah ini harus dilawan. Pemerintah kemudian menjadikan dokter, tenaga kesehatan (nakes) menjadi garda terdepan untuk menghadapi wabah ini. Polri pun ikut menjadi garda terdepan.
 
Banyak anggota polisi yang kemudian ditugaskan dalam penanganan program-program pemerintah untuk menghadapi pandemi Covid-19 ini. Salah satunya adalah Aiptu Arny Victor Kembuan, anggota Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Manado.
 
Ia ditugaskan untuk mengawal jenazah pasien Covid-19 untuk dimakamkan. Saat wabah sedang pada puncaknya, tak jarang ia harus melakukan lima sampai enam pengawalan dalam sehari. Karena tugas ini, menggunakan pakaian hasmat menjadi tidak asing baginya.
 
“Dan bukan hanya di dalam kota Manado saja, tetapi bisa sampai keluar daerah dimana pasien meninggal akan dimakamkan,” ujar Kembuan saat ditemui di Manado, Sabtu, 18 Desember 2021.
 
Tak jarang, ia bersama rekan kerjanya serta beberapa petugas dari rumah sakit terpaksa turun tangan untuk memakamkan pasien meninggal disaat warga enggan untuk memakamkan karena takut tertular. “Inilah yang menjadi risiko yang harus kami hadapi selama bertugas,” katanya.
 
3 Kali Divaksin
 
Selang setahun pandemi Covid-19 di Indonesia, upaya menghadapi virus corona dilakukan dengan cara vaksinasi. Januari 2021 mulai dilaksanakan program vaksinasi.
 
Polisi pun masuk dalam gelombang pertama untuk divaksin bersama dengan tenaga kesehatan dan pejabat Negara. Vaksinasi dianggap akan memberikan kekebalan terhadap virus corona.
 
Sebagai petugas polisi yang bersentuhan langsung dengan rumah sakit dan pasien corona, ia pun ikut divaksin dengan menggunakan vaksin jenis Sinovac. Setelah tiga minggu kemudian ia kemudian melakukan vaksinasi tahap dua.
 
Disaat banyak yang mengeluhkan efek samping dari vaksinasi, ia mengatakan tidak merasakan apa-apa. Kalau pun ada, hanyalah perasaan mengantuk.
 
“Mungkin tergantung dari kondisi tubuh kita masing-masing, saya tidak merasakan ada efek yang berlebihan,” katanya.
 
Meski sudah divaksin, dalam menjalankan tugas pengawalannya ia mengatakan tetap selalu menggunakan masker. Vaksin katanya, belum menjamin sepenuh untuk tidak terjangkit dari virus corona.
 
“Apalagi tugas kami istilahnya berhadapan langsung dengan virus ini, jadi protokol kesehatan tetap dijalankan,” ujarnya.
 
Ketika pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemkes) telah memulai vaksinasi tahap tiga untuk tenaga kesehatan (nakes), Juli 2020, ia juga meminta untuk ikut divaksinasi.
 
“Kami tugasnya bersama-sama dengan nakes, jadi wajar jika ada perlindungan tambahan melalui vaksinasi ketiga,” ungkapnya.
 
Kalau pun nantinya akan ada lagi vaksinasi tahap keempat, Victor mengatakan akan mengikutkan dirinya untuk dapat divaksin. “Saya akan ikut lagi kalau memang bisa,” pungkas pria yang kini telah kembali bertugas ke satuannya di Satuan Lalulintas (Satlantas) Polresta Manado.
 
Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Sulut, dr Steaven Dandel mengatakan, syarat herd immunity dari program vaksinasi adalah minimal 80% dosis 2. Sedangkan pemberian vaksin dosis 3 (booster) adalah sebagai perlindungan tambahan.
 
“Jadi jika ada booster sampai 4 atau 5 kali bisa menyebabkan penyakit autoimun, bila tidak diperiksa titer antibodinya,” katanya.
 
Titer antibodi merupakan jenis tes darah yang digunakan untuk menentukan keberadaan dan tingkat antibodi dalam darah. Tes ini berguna untuk menyelidiki apakah terdapat reaksi kekebalan yang dipicu oleh penyerbu asing (antigen) di dalam tubuh.
 
Di tengah kondisi pandemi Covid saat ini, titer antibodi menjadi salah satu hal yang diperlukan, terlebih dalam proses pemberian vaksin Covid-19. Titer antibodi Covid dapat memberikan gambaran mengenai kebutuhan dosis booster atau dosis vaksin tambahan yang berfungsi sebagai penguat vaksin sebelumnya.
 
“Tes juga dapat membantu menentukan apakah vaksin memberikan perlindungan penuh terhadap virus Covid-19,” pungkas Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Daerah Provinsi Sulut ini.
 
Editor: Asrar Yusuf
 
Komentar ()
Berita Profil
Profil
21 Mar 2019 / dibaca 1878 kali
JAKARTA (BK) : Terorisme saat ini semakin membahayakan. Terakhir kejadian di New Zealand. Dalam rapat kerja Pansus RUU Terorisme  dengan...
Profil
21 Mar 2019 / dibaca 1741 kali
MANADO (BK): Nama Arhur Kotambunan ternyata melekat dengan baik di benak puluhan ribu masyarakat Manado. Ini terlihat dari munculnya aspirasi di...
Profil
04 Mar 2019 / dibaca 1297 kali
MANADO (BK): Djenri Keintjem, SH.MH selaku Anggota DPR RI dapil Sulawesi Utara dari Partai PDI Perjuangan melakukan sosialisasi 4 pilar di...
Profil
28 Feb 2019 / dibaca 1509 kali
MINUT (BK) : Srikandi PDIP Novita Umboh, SH.MH yang aktif dalam berbagai kegiatan termasuk salah satunya menjadi motor terselengaranya Parlemen...
Profil
22 Feb 2019 / dibaca 2283 kali
TOMOHON (BK): Kendati berstatus Pejabat Negara sebagai Anggota DPD RI/MPR RI, namun kefiguran Pnt Ir Stefanus BAN Liow terus membuktikan...
Profil Perusahaan | © 2011 - 2022 BeritaKawanua.com - Terdepan Mengabarkan Fakta.