Religi

Natal Sebagai Tradisi Keluarga

Oleh : Redaksi, beritakawanua.com
Thursday, 26 December 2019 16:13   136 kali

BAGI umat Kristiani, Natal bukanlah perayaan terbesar. Perayaan yang paling besar adalah Paskah. Perayaan Natal merupakan perayaan kelahiran, sementara Paskah adalah perayaan terpenuhinya tugas kehidupan Yesus Kristus dari Nazaret. Semua orang tentu pernah lahir, tetapi belum tentu mati dengan mulia. Walau demikian, Natal umumnya dirayakan lebih meriah mengingat kenangan akan hal ini lebih melibatkan suasana kekeluargaan.

 

Fakta bahwa perayaan ini dirangkai dengan peristiwa akhir dan awal tahun menjadikan perayaan ini menjadi perayaan yang dinantikan oleh banyak orang. Itulah sebabnya di dalam lagu natal selalu terungkap ucapan Selamat Tahun Baru juga. Selamat Hari Natal dan Tahun Baru!

 

Natal bagi banyak keluarga adalah kesempatan untuk merayakan kebersamaan. Tradisi Santa Klaus yang diceritakan sebagai seorang kakek tua dari negeri es yang akan datang memberi hadiah di dalam kaus kaki yang digantungkan di Pohon Natal sebenarnya adalah perlambang saja. Ini adalah perlambang tentang orangtua yang hendak memberi hadiah kepada anak-anak atau cucu-cucunya.

 

Terkadang juga yang mendapat hadiah adalah orang tua. Orang yang akan memberikan hadiah tentu bukan Santa Klaus, melainkan bapak atau ibu atau anggota keluarga yang lain. Tradisi ini adalah tradisi keluarga.


Peristiwa Natal di Indonesia memiliki ciri yang khas. Seperti halnya perayaan Lebaran yang dilengkapi dengan ritual mudik, Natal di Indonesia juga disertai tradisi mudik. Sementara biasanya tidak ada waktu libur panjang untuk perayaan Paskah, perayaan Natal dibingkai dengan liburan yang cukup panjang. Anak-anak yang tinggal jauh dari keluarga menyempatkan pulang untuk bertemu dengan orangtua dan saudara. Ini adalah kesempatan yang digunakan oleh banyak keluarga Kristiani untuk berlibur berjumpa dengan keluarga. Itulah sebabnya, perayaan Natal sungguhlah perayaan keluarga.
 

Di tengah arus kehidupan masyarakat yang kian modern dan arus migrasi yang begitu kencang, masyarakat kita menjadi masyarakat yang berjarak. Sementara mereka yang memiliki ikatan keluarga hidup di dalam jarak-jarak tertentu, mereka yang hidup di tempat yang sama belum tentu bisa membangun ikatan-ikatan persaudaraan. Belum lagi saat ini perbedaan suku, ras, bahasa memberi jarak tersendiri, termasuk juga urusan agama.
 

Tahun 2019 kita menjadi saksi bagaimana perbedaan politik "yang dibumbui agama" memberi jarak baru kepada kehidupan bersama di masyarakat Indonesia. Rasa-rasanya negeri ini sedang membutuhkan lem-lem pengikat yang memungkinkan persaudaraan tetap tumbuh. Lem-lem pemersatu itu bukan hanya berhubungan dengan masalah besar sebesar bangsa. Sebagai bagian dari bangsa ini, kita ingin keluarga-keluarga bersatu dan setiap anggota keluarga merasakan indahnya persatuan di dalam keluarga.
 

Untuk hal ini, tentu tidak bisa dilupakan momen-momen penting seperti halnya Natal dan berbagai perayaan keagamaan menjadi momen penting pengikat persaudaraan. Seorang penulis bernama Mircea Eliade menulis tentang ini. Waktu kudus adalah waktu yang bisa diulang-ulang untuk bisa mengalami yang ilahi (Mircea Eliade, 1907). Dalam arti tertentu, ritual keluarga di dalam perayaan Natal adalah waktu kudus. Orang datang untuk menegaskan bahwa ada kesempatan untuk terus memaknai hidup di dalam kebersamaan dengan yang lain.
 

Waktu-waktu ini memiliki makna yang lebih dari hari-hari biasa karena memiliki makna khusus yang memungkinkan orang semakin bersyukur atas kehidupannya. Momen Natal adalah bagian dari waktu kudus itu. Di dalamnya ikatan dalam keluarga disambung, persaudaraan ditegaskan, dan kehidupan bersama dikukuhkan. Robert Bellah mengungkapkan bahwa ritual kebersamaan ini merupakan hal yang mendasar demi tercapainya tindakan bersama yang menghadirkan ikatan-ikatan emosi sebagai ungkapan kesatuan dan pengalaman saling memiliki (Bellah, 2003).
 

Maka dapat dibayangkan pentingnya momen-momen Natal ini bagi kebersamaan di dalam umat Kristiani, demikian juga di dalam hidup bermasyarakat. Tradisi Natal sebagai tradisi keluarga menjadi hal yang dirindukan. Di sana ada rindu yang tersampaikan, maaf yang terungkapkan, dan kesempatan untuk berbagi suka duka kehidupan. Dalam hal ini, sebagai saudara-saudari sebangsa dan setanah air rasanya kita saling berbagi mimpi persaudaraan yang sama. Harapan agar masyarakat negeri ini merasakan sukacita dan kebahagiaan di dalam keluarga adalah hal yang dinantikan bersama.
 

Tradisi Natal bukan sekadar tradisi keagamaan atau ritual semata, tetapi kesempatan untuk menumbuhkan rasa bahagia punya keluarga, sukacita bertemu, dan kegembiraan boleh saling berbagi suka duka. Kita berharap negeri ini dipenuhi oleh orang-orang yang bersukacita mengingat di dalam sukacita, orang lebih sering melahirkan kebaikan.
 

Khusus pada tahun 2019 ini, Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) bersama-sama menyerukan pesan Natal, "Hiduplah sebagai sahabat bagi semua orang." (Bdk. Yohanes 15: 14-15). Dalam ungkapan ini termaktub pesan damai. Di tengah arus perpecahan yang sedang terjadi bangsa ini, umat Katolik dan Kristen menegaskan niat untuk terus menjadi bagian dari pemersatu bangsa ini, menjadi lem-lem yang memungkinkan ikatan kita kian teguh.
 

Di dalam salah satu bagiannya, KWI dan PGI mengatakan, "Merayakan Natal dalam terang kehadiran Ilahi yang menawarkan persahabatan berlandaskan cinta kasih merupakan panggilan bagi kita untuk keluar dari sekat-sekat suku, budaya, agama, dan lain-lain. Bagi umat Kristiani panggilan tersebut merupakan suatu panggilan untuk menjadi murid sejati, yang mempraktikkan cinta kasih dalam kehidupan sehari-hari bersama keluarga, gereja, dan masyarakat."
 

Selamat Natal bagi Anda yang merayakan. Semoga Natal kali ini mengubah hidup kita sebagai pribadi-pribadi yang semakin mensyukuri hidup dan bergerak bersama berkontribusi untuk kemajuan bangsa dan negara. Semoga Natal tahun ini bisa menjadikan kita sahabat bagi semua orang.

 

*Martinus Joko Lelono pastor Katolik di Yogyakarta, mahasiswa Indonesian Consortium for Religious Studies UGM

(dtc/bk-1)

 

Komentar ()
Berita Religi
Religi
22 Apr 2019 / dibaca 409 kali
MANADO (BK):  Uskup Manado Mgr Benedictus Estefanus Rolly Untu, MSC memimpin ibadah Jumat Agung Gereja Oikumene Abigail Rutan Klas IIA...
Religi
06 Feb 2019 / dibaca 808 kali
MANADO (BK) : Milad Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke-72, diperingati dengan cara berbeda oleh HMI Cabang Manado. Peringatan secara sederhana...
Religi
20 Jan 2019 / dibaca 569 kali
MANADO (BK) : Ada yang istimewa pada peringatan Hari Amal Bakti (HAB) di Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Sulawesi...
Religi
19 Jan 2019 / dibaca 911 kali
MANADO (BK) : Perubahan struktur pejabat dilingkup Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). 3...
Religi
17 Jan 2019 / dibaca 461 kali
MANADO (BK) : Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut),...
Profil Perusahaan | © 2011 - 2020 BeritaKawanua.com - Terdepan Mengabarkan Fakta.