Religi

Pemuda GMIM: Pemuda Gereja Harus Menjaga Jati Diri dan Dewasa Dalam Berpolitik

Oleh : Redaksi, beritakawanua.com
Sunday, 02 August 2020 16:01   205 kali
MANADO (BK): Dalam rangka memberikan pemahaman dan pengetahuan tentang partisipasi politik warga gereja khususnya pemuda. Serta memahami dinamika, tantangan serta peran pemuda gereja menghadapi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020. Komisi Pelayanan Pemuda Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) kemarin melaksanakan diskusi virtual dengan tema pemuda gereja dalam pusaran politik menjelang Pilkada 2020.
 
 
Ketua Komisi Pelayanan Pemuda Sinode GMIM Pnt dr Pricillia Tangel mengawali diskusi ini mengatakan dalam menghadapi Pilkada ini sebagai pemuda gereja harus tetap menjaga jati diri dan dewasa dalam berpolitik. "Artinya kita harus memiliki kesadaran ikut serta mensukseskan pilkada 2020 dengan baik dan benar, memiliki daya kritis dalam menentukan pilihan, bijak dan santunlah dalam bermedsos, serta menghormati dan menghargai perbedaan pilihan politik masing-masing" ungkap dr. Pricillia. 
 
 
Diskusi ini berjalan menarik setelah narasumber yakni Pdt. Tonny Kaunang mewakili Badan Pekerja Majelis Sinode GMIM, Ferry Daud Liando selaku akademisi Unsrat, Herwyn Malonda selaku Ketua Bawaslu Sulut menyampaikan materinya dan ditanggapi oleh Marhany Pua dan Franky Mocodompis selaku senior Pemuda GMIM. Diskusi virtual berjalan menarik sehingga banyak ditanggapi berupa pertanyaan - pertanyaan dari peserta diskusi. 
 
 
 
Menurut Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan Komisi Pelayanan Pemuda Sinode GMIM Pnt Rovan Kaligis, SH mengatakan kesimpulan dari diskusi virtual ini, pertama berpolitik adalah proses untuk memilih pemimpin yang yang baik dan benar. Kedua, pemuda gereja jangan menjauhkan diri dari politik untuk mewujudkan nilai-nilai alkitabiah dalam negara. Ketiga, pemuda gereja harus menyebar kemana-mana, tapi jangan menggunakan institusi gereja untuk kepentingan politik. keempat, pemuda gereja unggul dalam wawasan politik, IPTEK dan pelayanan. kelima, pemuda gereja harus menjadi fasilitator penyelesaian konflik dalam pilkada serta mengedukasi masyarakat demi terwujudnya Pilkada yang taat azas LUBER dan JURDIL. Keenam, pemuda gereja menolak politik uang atau politik transaksional. Ketujuh, proses menghasilkan pemimpin yang baik perlu ditingkatkan dan menghilangkan praktek menghalalkan segala cara dalam mencari pemimpin yang dianggap baik. Kedelapan, gereja secara institusi berpotensi dimanfaatkan karena struktur yang sudah tersusun rapih, adanya tokoh-tokoh dan simbol untuk kepentingan elektoral. Kesembilan, gereja menjadi transformer politik; menghasilkan pemimpin bukan hanya mengejar kekuasaan tetapi menghadirkan kesejahteraan. kesepuluh, memahami dan menerima perbedaan pilihan politik adalah cerminan kedewasaan dalam politik.
 
 
 
 
 
 
(BK/01-JM)
Komentar ()
Berita Religi
Religi
12 Sep 2019 / dibaca 427 kali
MANADO (BK) : Sekretaris Umum Badan Musyawarah Kekeluargan Indonesia Sangihe Sitaro Talaud (BAMUKISST), Alfeyn Gilingan memastikan Rapat...
Religi
09 Jun 2019 / dibaca 1150 kali
MINUT (BK) Perkemahan Karya Pemuda GMIM (PKPG) tahun 2019 sukses digelar. Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 3-7 Juni 2019 di Bumi Perkemahan...
Religi
16 May 2019 / dibaca 765 kali
MANADO (BK) : Komunitas pencinta alam identik dengan gunung, laut dan tempat-tempat eksotis lainnya. Gaya yang slengean, celana robek dengan...
Religi
11 May 2019 / dibaca 729 kali
MANADO (BK): Puasa adalah satu-satunya ibadah yang tidak terlihat ibadahnya. Mengapa? Karena yang mengetahui ibadah itu hanya orang yang...
Religi
25 Apr 2019 / dibaca 1022 kali
SEA (BK): Peran perempuan sejak jaman Yesus sangat menonjol. Perempuan mengerti bahasa ekonomi, mereka juga menyaksikan di mana kubur Yesus....
Profil Perusahaan | © 2011 - 2020 BeritaKawanua.com - Terdepan Mengabarkan Fakta.