Editorial
Mati Lampu... Mati Lampu Lagi
MUNGKIN ungkapan yang dituliskan di judul tulisan kali ini mulai sering diucapkan kembali oleh masyarakat Kota Manado akhir-akhir ini. Ya, kebiasaan buruk Perusahaan Listrik Negara (PLN) kembali kambuh. Pemadaman listrik alias mati lampu mulai kembali dilaksanakan oleh PLN. Tak tanggung-tanggung, pemadaman dilakukan tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu.
 
Tak hanya itu, pemadaman listrik ini sering dilakukan tanpa alasan yang jelas. Pasalnya, selain tidak ada gangguan cuaca seperti hujan deras atau angin kencang, PLN sekenanya sering memadamkan aliran listrik.
 
Belum lagi pemadaman yang dilakukan dalam sehari bisa sampai dua kali dengan jangka waktu yang lumayan panjang bisa sampai 4 jam per sekali mati lampu, atau dengan kata lain dalam sehari ada durasi 8 jam listrik dipadamkan. Bagi seorang usahawan yang menggunakan listrik sebagai salah satu penopang usahanya tentu ini sangat merugikan.
 
Alih-alih memperbaiki layanan ketika dikritik, PLN justru membuat para pelanggannya dalam hal ini masyarakat semakin disengsarakan. Dengar saja pernyataan Humas PLN kepada wartawan beritakawanua.com, yang coba mengkonfirmasi mati lampu yang terjadi di wilayah Kelurahan Taas beberapa waktu yang lalu.
 
"Mungkin hanya listrik di rumah anda saja yang mati," kata Humas seperti yang dituturkan beritakawanua.com dalam sebuah berita dengan judul artikel listrik terus padam, Pihak PLN malah sebut meteran warga rusak. 
(http://beritakawanua.com/berita/manado/listrik-terus-padam-pihak-pln-malah-sebut-meteran-warga-rusak.html)
 
Sebenarnya, masyarakat Kota Manado sudah kehilangan akal dengan perilaku PLN yang semau gue kata orang Jakarta. Pasalnya, ketika pemadaman listrik dilakukan, pihak PLN dengan tanpa berdosa meminta maaf karena ada kesalahan teknis atau gangguan alam yang mengakibatkan listrik harus dipadamkan. 
 
Tetapi ketika masyarakat terlambat melakukan pembayaran tagihan listrik, PLN berubah menjadi serigala yang siap menerkam siapa saja. Padahal, masyarakat sering terlambat membayar tagihan listrik juga dikarenakan ulah PLN. Pasalnya, kebijakan PLN yang non populis yang mengecek meteran 3 bulan sekali, sangat merugikan masyarakat yang dalam hal ini pelanggan.
 
Pasalnya, masyarakat sering merasa kaget dengan tagihan yang kadangkala sangat kecil dan tiba-tiba meningkat tajam karena sudah terakumulasi selama 3 bulan.
 
Pemadaman listrik sendiri sebenarnya perlu digaris bawahi untuk menjadi bahan perbincangan. Pasalnya, di sejumlah media massa, PLN dengan beraninya mengatakan jika tidak ada defisit pasokan daya listrik yang bisa mengakibatkan pemadaman. Tetapi ternyata, informasi di media itu rata-rata palsu, karena pemadaman listrik tetap saja dilakukan PLN secara merata di seluruh wilayah Kota Manado. Artinya, memang ada defisit listrik yang terjadi di wilayah ini.
 
Namun, bisa juga ada benang merah yang mengaitkan ketersediaan aliran listrik untuk masyarakat dengan kasus PLN dan Mantos yang kini menjadi heboh karena ada kelompok yang membela mati-matian jika kasus ini tidak bisa digiring ke ranah tindak pidana melainkan hanya merupakan perdata dikarenakan adanya surat perjanjian.
 
Padahal, mau dia pidana atau perdata, sudah jelas jika ada terjadi permasalahan disini. Misalnya, jika benar ada surat perjanjian antara Mantos dan PLN terkait dengan penggunaan aliran listrik dengan pembayaran yang di bawah harga, maka sudah jelas-jelas ada yang salah. Mengapa? karena jika diasumsikan kepada masyarakat biasa, PLN sama sekali tidak mau memberikan kelonggaran untuk melakukan cicilan pembayaran tagihan listrik yang paling besar ada di kisaran jutaan. PLN selalu berdalih jika listrik telah digunakan maka harus dibayar oleh pelanggan.
 
Nah dalam kasus dengan Mantos, seharusnya angka Rp 41 milliar tunggakan, justru oleh PLN diberikan kelonggaran hingga turun hanya sebesar Rp 11 milliar. Yang seharusnya dibela disini disini siapa. Apakah masyarakat kecil atau pengusaha besar? Lha PLN saja kan adalah perusahaan Listrik Negara yang harus memakmurkan masyarakat bukan pengusaha.
 
Tetapi dari semua hal tersebut, kita sebagai masyarakat kecil hanya bisa menggerutu ketika PLN memadamkan aliran listri. Kita hanya bisa bilang MATI LAMPU... MATI LAMPU LAGI
 
(jusuf kalalo)
Komentar ()
Berita Lainnya
Profil Perusahaan | © 2011 - 2023 BeritaKawanua.com - Terdepan Mengabarkan Fakta.