Editorial
Karir Politik Angie Tamat

KARIER politik Angelina Sondakh kian redup. Dia tidak lagi kinclong seperti saat menjadi bintang iklan kampanye Partai Demokrat tahun 2009 yang mengusung tema Katakan tidak pada korupsi.

 

DPP Partai Demokrat telah menonaktifkan Angelina yang biasa disapa Angie dari jabatan Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat, juga Sudewo dinonaktifkan dari jabatan Ketua Bidang Organisasi dan Pembinaan Kader.

 

Sebelumnya Komisi Pemberantasan Korupsi telah menetapkan Angie sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek Wisma Atlet.

 

"DPP menggelar rapat pleno pada Kamis (23/2) dan memutuskan menindaklanjuti rekomendasi Dewan Kehormatan untuk memberhentikan Angelina sebagai pengurus DPP Demokrat," ujar Ketua Divisi Komunikasi Publik DPP Demokrat Andi Nurpati di Jakarta.

 

Rapat DPP itu dipimpin Ketua Umum Anas Urbaningrum dihadiri Sekjen Edhie Baskoro Yudhoyono, Wakil Ketua Umum Max Sopacua dan Johny Alen Marbun, serta pimpinan lain. Sekretaris Dewan Kehormatan TB Silalahi juga hadir. Surat keputusan pemberhentian Angie dalam proses.

 

Keputusan itu perlahan mengakhiri karier politik Angie. "Karier politik Angie tamat," kata Yunarto Wijaya, pengamat politik dari Charta Politica.

 

Pemecatan Angie, katanya, tidak serta merta mengakhiri kegaduhan di internal partai binaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu. Angie bukan episentrum dari keriuhan yang melanda Demokrat. Angie hanya bagian kecil dari konflik yang melanda partai itu akibat masih adanya residu konflik pascakongres Demokrat tahun 2010 di Bandung.

 

"Masih ada kubu-kubu yang bertarung demi kekuasaan di partai itu."

 

Sebelumnya Dewan Kehormatan memberikan tenggat tujuh hari agar DPP menuntaskan status Angie. Namun tenggat itu terlewatkan karena Anas sibuk berkunjung ke daerah sehingga rapat DPP tidak kunjung digelar.

 

Kini Angie dinonaktifkan sebagai wakil sekjen. Jika menjadi terdakwa, dia diberhentkani sementara sebagai anggota DPR. Dan kelak jika dihukum maka diberhentikan permanen dari dewan.

 

Keriuhan di Demokrat terus bergulir. Setelah sejumlah kadernya diduga terlibat kasus korupsi, kini kader Demokrat Jemmy Setiawan dan Ferry Juliantono melaporkan dua stasiun televisi ke Komisi Penyiaran Indonesia. Alasannya pemberitaan kedua televisi itu tidak berimbang.

 

"Tolonglah jangan menambah masalah baru karena badai belum berlalu," kata kader Demokrat Ruhut di gedung DPR.

 

Ruhut meyakinkan bahwa Demokrat tidak pernah berniat berseberangan dengan pers. DPP akan memanggil Jemmy dan Ferry untuk mengetahui duduk perkara pelaporan tersebut.

 

(mi/bk-1)

Komentar ()
Berita Lainnya
Profil Perusahaan | © 2011 - 2023 BeritaKawanua.com - Terdepan Mengabarkan Fakta.