Editorial
Pengucapan di Tanah Minahasa, Bersyukur Atau Pemborosan

Penulis: Isak

Bulan Juli perayaan hari Pengucapan Syukur atau Thanksgiving Day akan digelar di beberapa tempat wilayah di tanah Minahasa.
 
Sudah mentradisi setiap tahun, “Hari Pengucapan” di tanah Minahasa dirayakan dengan sangat meriah. Baik secara individual maupun komunal.
 
Tiap orang tak hanya bersyukur karena masa panen raya pertanian tetapi juga karena keberhasilan dalam berbagai jenis usaha lainnya.
 
Kendati demikian tak dapat dipungkiri, banyak sisi negatif yang kerap kali mewarnai perayaan Pengucapan tersebut.
 
Fakta menunjukkan hampir setiap kali pengucapan, muncul rupa-rupa gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat yang disebabkan oleh konsumsi minumas keras (miras) yang berlebihan.
 
Sebab itu tidak heran, pada saat atau setelah pengucapan, ada warga yang harus berurusan dengan polisi.
 
Selain itu hampir setiap pengucapan, tidak sedikit terjadi kasus kecelakaan lalu lintas. Bukan hanya karena padatnya kendaraan, tetapi kebanyakan karena pengaruh minuman keras.
 
Fenomena lain di perayaan pengucapan yaitu perilaku konsumerisme di masyarakat. Akibatnya, pengucapan tak ubahnya lagi dengan pesta pora untuk memuaskan keinginan, dan bukan lagi dalam rangka Mengucap Syukur. Konsekuensinya adalah pemborosan.
 
Keuntungan dari hasil pertanian seperti panen cengkih di beberapa wilayah di Minahasa terkuras habis-habisan.
 
Malah, ada warga yang ekonominya biasa-biasa saja, nekat untuk berhutang agar tidak kalah aksi.
 
Pada akhirnya, habis pengucapan, habis pula segalanya, bahkan stres karena memikirkan bagaimana cara melunasi hutang.
 
Dari berbagai sisi negatif tersebut, tentu saja pengucapan syukur selama ini telah banyak bergeser dan kehilangan makna.
 
Pengucapan yang harusnya sebagai momentum mengucap syukur atas segala berkat dan anugerah yang telah diberikan Tuhan, berubah menjadi pesta pora.
 
Padahal, menurut sejarah Minahasa, tradisi pengucapan yang sudah dilakukan sejak tahun 1940-an sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas keberhasilan panen pertanian oleh masyarakat Minahasa, yang diprakarsai oleh Gereja.
 
Namun fakta kini menunjukkan maknanya semakin bergeser jauh. Bukan lagi pengucapan syukur tetapi pesta pora. Bukan lagi kesederhanaan melainkan pemborosan, bahkan bukan lagi suasana tentram yang dialami malah ketidak-nyamanan.
 

Komentar ()
Berita Lainnya
Profil Perusahaan | © 2011 - 2023 BeritaKawanua.com - Terdepan Mengabarkan Fakta.