Opini
39 Tahun KNPI: Di Tengah Persoalan Narkoba dan Keutuhan NKRI

Hari ini tepat berusia 39 tahun Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Sebagai wadah organisasi kepemudaan, kini KNPI diperhadapkan sejumlah persoalan bangsa ini.
 
Harus diakui, KNPI identik dengan bayang-bayang Orde Baru (Orba) yang digusur oleh gerakan reformasi 98. Meski saya pernah menjadi aktivis mahasiswa di era 1998 dan kini berkecimpung di dalam KNPI, namun ‘stempel’ Orba hingga kini masih saya rasakan di tubuh KNPI.
 
Dalam sejarahnya, sejumlah aktivis mendeklarasikan KNPI pada 23 Juli 1973, yakni Ketua KAMI David Napitupulu, Kapten TNI (AU) Abdul Gafur, Akbar Tanjung, Ridwan Saidi, Cosmas Batubara, Albert Hasibuan dari PMKRI, Zamroni mewakili PMII, Chris Siner Keytimu dari GMNI, dan Aulia Rahman yang dulu dikenal sebagai ‘mahasiswa intel’. Mereka dikenal sebagai gabungan dari kelompok Cipayung yang akhirnya didukung oleh penguasa Orde Baru, Jenderal Suharto.
 
Dalam perjalanan awalnya, KNPI terseret oleh kepentingan politik dan ekonomi yang terdapat di lingkungan Soeharto. Saat itu, muncullah istilah konflik antara kelompok Ali Moertopo Vs Soemitro dan kelompok CSIS Vs MafiaBerkeley.
 
Bagi saya, proses lahirnya KNPI tersebut biarlah menjadi bagian sejarah KNPI yang dikenang sepanjang masa. Kini KNPI merupakan sebuah wadah berhimpun dari sedikitnya 70 organisasi kepemudaan (OKP) yang dari tahun ketahun selalu bertambah anggotaannya. Dan ini sesungguhnya merupakan cerminan keanekaragaman yang ada di dalam NKRI.
 
Sama seperti di KNPI pusat, di KNPI daerah pun sering terlihat masih ada kader yang belum siap untuk berbeda pandangan. Konflik kepentingan di antara orang-orang muda saat ini masih nampak sebagai bentuk sikap pragmatisme politik yang sasarannya hanya kepentingan jangka pendek.
 
Nah, untuk mengubah sikap pragmatisme, maka menurut saya perlu menanamkan karakter bangsa, yakni kesadaran akan sebuah negara yang plural (majemuk) haruslah selalu di implementasikan dalam kehidupan berbangsa dengan mengambil nilai luhur yang terkandung kelima sila dalam Pancasila.
 
Ada dua persoalan yang menjadi tantangan KNPI ke depan, yakni masalah narkoba dan keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Persoalan pertama ini sudah teramat penting, karena para pengedar dan pengguna narkoba mulai sering ada di sekitar kehidupan kita, secara sadar atau tak sadar. Untuk itu, pelaku penyalah-gunaan narkoba harus dihukum berat, sedangkan korban dari pelaku harus diisolasi dan dipulihkan agar tidak menularkan kebiasaannya ke orang lain.
 
Dan persoalan kedua adalah keutuhan NKRI yang kini masih mengemuka khususnya di Tanah Papua. Beredarnya isu kantor-kantor perwakilan Organisasi Papua Merdeka (OPM) telah makin berkembang di luar negeri, perlu disikapi dengan bijak oleh pemerintah. Menurut saya, dialog merupakan kunci mengatasi persoalan di Papua untuk mengetahui persoalan sebenarnya demi mencapai kesepakatan bersama. Dirgahayu KNPI!

 

(Jackson Kumaat, Ketua DPD KNPI Sulut)

Komentar ()
Berita Lainnya
Profil Perusahaan | © 2011 - 2023 BeritaKawanua.com - Terdepan Mengabarkan Fakta.