Opini
Aplikasi e-Voting dengan Teknologi Blockchain dalam Penyelenggaraan Pemilihan Umum yang Efektif, Transparan dan Terpercaya

Pemilihan umum sebagai artikulasi kedaulatan rakyat adalah wujud peradaban sebuah bangsa. Sehingga sukses tidaknya suatu proses penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) akan menggambarkan wajah peradaban demokrasi sebuah bangsa. Bagaimana tidak, suara rakyat yang disuarakan melalui kertas suara akan menentukan nasib bangsanya dengan menghasilkan wakilnya di parlemen bahkan pemimpin di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dan Pemilihan Presiden (Pilpres).

 

Indonesia sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia, sudah menyelenggarakan Pemilihan Umum sejak tahun 1955 dimana dengan luas wilayahnya yang besar serta jumlah pemilihnya yang besar pula membuat penyelenggaraannya menjadi begitu kompleks dan berbiaya mahal.

 

Dengan diselenggarakannya pemilihan langsung di setiap tingkatan (Pemilu DPRD Kabupaten/Kota, Pemilu DPRD Propinsi, Pemilu DPR RI, Pemilu DPD RI, Pilkada Kabupaten/Kota, Pilkada Gubernur, Pilpres), Agenda politik lima tahunan seolah menguras energi bangsa dari tahun ke tahun. Belum lagi secara kuantitatif nominal, beban biaya politik dalam penyelenggaraannya memakan anggaran yang sangat besar. Dalam catatan Perludem, anggaran Pilkada serentak di 171 daerah tahun 2018 berpotensi tembus Rp 20 Triliun (Kompas.com, 2017). Bahkan Pemilu tahun 2014, total anggaran Pemilu mencapai Rp24,1 Triliun (SindoNews.com, 2013).

 

Biaya yang sangat mahal tersebut ternyata belum juga menjamin penyelenggaraan yang berkualitas. Tercatat, secara kualitas penyelenggaraan Pemilihan langsung banyak terjadi pelanggaran dan penyalagunaan dalam pelaksanaannya. Dalam catatan Penulis, penyelenggaraan Pemilu pasca reformasi sarat dengan penyalahgunaan. Beberapa oknum Komisioner KPU RI tersandung kasus korupsi. Sebut saja tahun 2005, Mulayana Warih Kusuma, anggota KPU RI saat itu ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi tahun 2005 atas kasus suap terhadap Auditor BPK sehubungan hasil Audit keuangan berkaitan dengan pengadaan logistik pemilu 2004 yakni kotak suara, surat suara, amplop suara, tinta dan teknologi informasi. (Detik.com, 2005).

 

Luas wilayah dan medan yang berat merupakan salah satu masalah tersendiri dalam penyelenggaraan Pemilu yang efektif. Untuk wilayah Indonesia yang berada di kepulauan, masalah distribusi logistik merupakan masalah klasik yang sangat mempengaruhi kelancaran dan kesuksesan penyelenggaraan pemilu. Belum lagi masalah pelaporan hasil perhitungan suara yang melalui berbagai tahapan mulai dari TPS, PPS (desa), PPK (kecamatan), KPUD dan seterusnya yang membuka celah terjadinya manipulasi dan penyalahgunaan data.

 

Hal-hal tersebut di atas menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan demi terciptanya penyelenggaraan Pemilu yang efektif, efisien, berkualitas dan bermartabat.

 

Salah satu jalan keluar adalah dengan memanfaatkan teknologi dengan menggunakan sistem pemungutan suara elektronik atau e-voting. Pemanfaat kecanggihan teknologi ini dianggap oleh sebagian orang merupakan jawaban atas penyelenggaraan pemilu konvensional yang selama ini tradisinya dilaksanakan secara manual menggunakan Kertas Suara yang ditandai dengan tusukan atau dicoblos dengan alat bantu bahkan dicontreng dengan alat tulis diganti dengan penggunaan konsol tertentu untuk mengganti kertas manual. Bahkan sistem penghitungan suara yang otomatis diyakini mempercepat perolehan hasil tanpa harus melakukan rekapitulasi manual di tiap tingkatan.

 

Namun dalam alam transisi demokrasi yang cenderung liberal saat ini, serta perilaku politisi yang masih diwarnai rasa saling curiga, tawaran penggunaan e-voting masih dianggap rawan peretasan dan rekayasa oleh pihak lain. Tudingan seperti ini bukanlah hal yang tak mendasar. Sebelumnya, diketahui bahwa penyelenggaraan perhitungan suara Pemilu 2004 yang menggunakan teknologi informasi sempat diragukan menyusul dibobolnya situs KPU RI.

 

Adalah Dani Firmansyah, 25 tahun, seorang mahasiswa semester akhir Fisipol Universitas Muhamadyah Yogyakarta mengaku hanya mengetes apakah sistem server perhitungan suara betul-betul aman seperti digembar-gemborkan anggota KPU yang juga Ketua Kelompok Kerja IT KPU, Chusnul Mari'yah di tayangan televisi. Dalam perkara ini, Terdakwa Dani berhasil menyerang dan mengubah nama 24 Partai Politik di situs internet KPU.

 

Saat itu, Chusnul mengatakan sistem TI seharga 152 Milyar tersebut sangat aman dan tidak akan bisa ditembus hacker. Oleh karena itu, Dani mencoba sistem keamanan tnp.kpu.go.id dengan cara XSS atau Cross Site Scripting dan SQL Injection dan berhasil masuk ke situs yang berpusat di Pusat Tabulasi Nasional, Hotel Borobudur, Jakarta Pusat. Nama ke-24 partai peserta pemilu, kemudian diubah dengan nama buah dan hewan. Namun ketika Tersangka mencoba mengubah hasil perolehan suara dengan mengalikan jumlah suara resmi menjadi kelipatan 10, dia gagal. (Kaelola, Akbar, 2010:41)

 

Pada dasarnya dalam aktifitas di bidang teknologi yang dilakukan adalah pengolahan data, dan dalam pengolahan data itu banyak sekali elemen?-elemen didalamnya seperti di mana data itu diletakkan, bagaimana data itu dibuat, bagaimana data itu didistribusikan dan yang lainnya.

 

Seperti yang kita ketahui pada saat ini setiap data yang kita olah itu tersentralisasi atau hanya di simpan dalam satu komputer saja yang biasa kita sebut server. Sistem yang sekarang ini berjalan memiliki banyak kekurangan salah satunya adalah keamanan data menjadi tidak maksimal karena data hanya berada pada satu tempat yang mana itu membuat data kita tidak bisa divalidasi datanya. Yang lainnya adalah permasalahan jika ada kegagalan sistem dari server maka akan membuat jaringan down jika kita tidak memiliki backup maka hilang lah sudah data yang kita miliki.

 

Teknologi Blockchain sebagai Jawaban.

Blockchain adalah sebuah teknologi yang dikenalkan bersama dengan produk Kriptocurrensy bernama Bitcoin oleh seorang atau kelompok yang menamakan dirinya Satoshi Nakamoto yang mana awalnya teknologi ini digunakan untuk mencatat transaksi keuangan dari Bitcoin.

 

Simplenya blockchain adalah struktur data yang tidak dapat dirubah hanya bisa ditambahkan saja. Setiap data dari blockchain ini saling terhubung dimana kalau ada terjadi perubahan di salah satu block data maka akan berpengaruh terhadap data yang selanjutnya.

 

Dengan blockchain ini setiap transaksi dari bitcoin disimpan dalam sebuah Open Ledger (Buku Besar) yang didistribusikan ke dalam jaringan bitcoin. Setiap blockchain ini akan dibagikan copy datanya kepada setiap komputer yang terhubung pada jaringan tersebut. Pada setiap penambahan data akan ada pengecekan apakah datanya valid atau tidak yang biasanya proses ini disebut dengan mining atau di kenal dalam istilah lain Proof of work.

 

Blockchain sendiri adalah kumpulah dari beberapa data block yang mana data block ini adalah data dari transaksi yang kita buat. Atau kita bisa definisikan sendiri akan data didalam block ini. Yang mana dengan begini Blockchain ini tidak hanya bisa digunakan untuk mencatat transaksi keuangan saja. Di dalam sebuah block ini pun nanti akan memiliki sebuah identitas digital yang selanjutnya akan kita hash. Hash disini adalah identitas data block yang kita enkripsi dengan algoritma SHA-256. Data hash disini akan ada dua macam yaitu hash dari block itu sendiri dan hash dari block sebelumnya.

 

Menurut Kustiawan Kusumo,  “Secara sederhana, blockchain adalah buku besar bersama (distributed ledger) transaksi digital berbasis komputasi awan yang mampu mencatat berbagai data transaksi secara real time. Data transaksi ini selanjutnya akan blockchain buka ke beberapa jaringan komputer sekaligus – memungkinkan seluruh pihak terkait untuk mengkaji data tersebut bersama-sama.

 

Blockchain bersifat seperti sebuah buku besar di mana semua transaksi bersifat transparan dan bisa dicek oleh semua orang sehingga memastikan kredibilitasnya. Perubahan data di semua jaringan komputer jelas sangat tidak mungkin untuk dilakukan.

 

Teknologi blockchain merevolusi teknologi server yang tersentralisasi menjadi terdesentralisasi. Data tersebar ke beberapa server dengan sistem kerja yang lebih instan, transparan, dan efisien. Seluruh transaksi dalam hal ini proses memilih tereplikasi ke seluruh jaringan server. Dengan demikian jika peretas ingin mengubah satu data, maka ia juga harus mengubah data yang yang tersebar di setiap server lain di saat yang sama.

 

Perubahan data di semua jaringan komputer jelas sangat tidak mungkin untuk dilakukan. Blockchain bersifat seperti sebuah buku besar dimana semua transaksi bersifat transparan dan bisa dicek oleh semua orang sehingga memastikan kredibilitasnya. 

 

Teknologi Blockchain adalah sistem yang tersebar (desentralisasi) dan tidak terpusat, dimana tidak ada satu orang atau satu perusahaan yang mengontrolnya. Kode blockchain tidak terletak di sebuah server pusat yang dioperasikan oleh sebuah perusahaan, tetapi tersebar di ribuan komputer di jaringan blockchain tersebut. Anda pun bisa mempunyai node sendiri, dimana komputer / mesin anda berisikan blok-blok dan catatan transaksi blockchain tersebut.

 

Karena blockchain itu sifatnya open-source dan transparan, kita bisa tahu secara tepat ada berapa banyak suplay data. Jika anda adalah seorang developer yang bisa membaca kode blockchain, anda bisa memverifikasi sendiri kode apa yang tertulis. Dengan Blockchain, semua ini bisa diverifikasi di dalam kode yang tertulis.

 

Blockchain juga bersifat Tak Bisa Dibatalkan (immutable). Apapun yang sudah terjadi dan dikonfirmasi di Blockchain, tidak bisa dibatalkan. Dan yang paling utama adalah Teknologi Blockchain menjamin bahwa proses pemasukan dan pengiriman data Hampir Tidak Mungkin Untuk di-Hack. Untuk bisa meng-hack sebuah blockchain, anda harus mengontrol lebih dari setengah (>50%) kekuatan komputer yang ikut mengamankan jaringan blockchain tersebut (dikenal dengan nama Penyerangan 51%).

(http://www.andryo.com/id/blockchain)

 

Melalui blockchain hasil pemilu sebagai sumber legitimasi pemimpin dapat diperoleh melalui pemilu daring dengan kredibilitas tinggi. Dengan teknologi ini tidak perlu lama untuk mengetahui hasil pemilu nasional. Selesai.

 

(Andre Mongdong/Penggiat Demokrasi)

 

Andre Mongdong

Penulis adalah Penggiat Demokrasi

Komentar ()
Berita Lainnya
Profil Perusahaan | © 2011 - 2019 BeritaKawanua.com - Terdepan Mengabarkan Fakta.