Opini
Bahaya Kanker Usus Besar

Oleh: Dr. Billy E. Ch. R. Salem, SpB-KBD

(Spesialis Bedah &  Konsultan Bedah Saluran Pencernaan di Siloam Hospitals Manado).

 

 

                                                                                                                                                                                                                                                                      Kanker usus besar, dalam bahasa medis disebut sebagai karsinoma kolorektal. Kanker ini merupakan kanker terganas keempat di dunia, dan penyebab kematian kedua terbanyak di Amerika Serikat. Sedangkan di Indonesia insidensi kanker ini adalah 12,8 per 100.000 penduduk usia dewasa, dengan angka kematian (mortalitas) 9,5 % dari  seluruh kasus kanker. Secara keseluruhan resiko untuk mendapat kanker usus ini adalah satu dari 20 orang (5%).

Banyak faktor yang meningkatkan resiko individual untuk terkenanya kanker usus besar ini. Angka kematian akibat kanker ini telah berkurang sejak 20 tahun terakhir. Hal ini berhubungan dengan meningkatnya deteksi dini dan kemajuan pada penanganan kanker kolorektal. Kunci utama keberhasilan penanganan kanker usus besar adalah ditemukannya kanker (karsinoma) dalam stadium dini, sehingga terapi atau penanganan dapat dilaksanakan secara bedah kuratif, artinya bedah dengan tujuan kesembuhan.

Namun sayangnya sebagian besar penderita di Indonesia, termasuk yang di Sulawesi Utara, datang ke rumah sakit dalam stadium lanjut dengan angka harapan hidup rendah, karena tidak jelasnya gejala awal dan tidak mengetahui atau tidak  menganggap penting gejala dini yang terjadi.

Terapi bedah paling efektif, bila dilakukan pada penyakit yang masih terlokalisir. Bila sudah bermetastasis (menyebar di tempat lain), prognosis (ramalan kesembuhan) menjadi buruk dan angka survival (kelangsungan hidup) menurun drastis. Berkembangnya kemoterapi dan radioterapi, memungkinkan kesempatan untuk terapi ajuvan (tambahan) pada stadium lanjut atau kejadian kekambuhan.

Faktor resiko terjadinya kanker usus besar

Berkembangnya kanker usus besar ini merupakan interaksi antara faktor lingkungan dan faktor genetik. Faktor resiko seseorang untuk mendapat kanker terbagi dua yakni faktor resiko yang tidak dapat di modifikasi seperti riwayat kanker usus besar atau polip adenoma individual atau keluarga, dan riwayat sakit kronis inflamatorik pada usus, sedangkan yang termasuk yang dapat di modifikasi adalah inaktivitas, obesitas, konsumsi tinggi daging merah, merokok dan konsumsi alkohol.

Kecurigaaan adanya kanker usus besar

Gejala dan tanda yang menunjukkan adanya nilai prediksi tinggi adanya kanker usus besat yakni: Perdarahan peranus disertai peningkatan frekuensi defekasi (BAB) dan atau diare selama minimal 6 minggu (semua umur); Perdarahan peranus tanpa gejala anal (diatas 60 tahun); Peningkatan frekuensi defekasi atau diare selama 6 minggu (di atas 60 tahun); Massa (benjolan) teraba pada perut kanan bawah (semua umur); Massa intraluminal didalam rektum (usus paling bawah); Tanda-tanda sumbatan (obstruksi) usus mekanik; Setiap pasien dengan anemia (kurang sel darah merah atau kelihatan pucat).

Namun, dengan perkembangan kemajuan dalam penanganan kanker usus besar dengan memiliki pedoman yang menjadi standar internasional, maka penanganan akan lebih baik dengan memberi manfaat terhadap survival (kelangsungan hidup) yang lebih panjang dan kualitas hidup pasien yang meningkat. Di Indonesia sendiri, dalam hal ini di daerah-derah,  secara keseluruhan masih terdapat kesenjangan dalam hal fasilitas skrining dan terapi.

Siloam Hospitals Manado, sebagai rumah sakit bertaraf internasional telah memiliki fasilitas-fasilitas yang memadai untuk deteksi dan penanganan kanker usus besar ini. ***

Komentar ()
Berita Lainnya
Profil Perusahaan | © 2011 - 2023 BeritaKawanua.com - Terdepan Mengabarkan Fakta.