Opini
Ekonomi Manna  dan Solidaritas menyambut Paskah Yesus Kristus

Oleh : Dr.Peggy Adeline Mekel, SE.MA (Warga GMIM)

 

Gereja – gereja seluruh dunia yang berhimpun dalam suatu gerakan Oikumene,  Dewan Gereja Sedunia (world Council of Churches), dalam suatu pertemuan pra sidang Raya Dewan Gereja Dunia, di Bangkok Christian Guest House (BCGH) Church of Christ Thailand dalam rangka persiapan Sidang raya di Busan Korea bulan Oktober 2013 mendatang membahas beberapa agenda penting yang merefleksikan kehidupan umat Kristiani di Asia.

 

Diantara agenda sidang yang dibahas, ada prioritas yang dibahas oleh seluruh pemimpin pemimpin gereja se Asia, yaitu mengenai ekonomi yang berkeadilan dan berpihak dan memiliki solidaritas kepada seluruh lapisan masyarakat. 

 

Asia memiliki keragaman suku, budaya, latar belakang pendidikan, sosial dan begitu banyak tantangan2 yang dihadapinya. Dalam hal ekonomi, beberapa negara maju dan berkembang di Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi luar biasa pesatnya, top performance China dan India, diikuti Indonesia, Thailand , sedangkan ekonomi yang relatif maju dan stabil seperti Singapore dan Malaysia terus meningkatkan untuk mempertegas posisi mereka sebagai negara berekonomi maju (Developed Country).

 

Disatu pihak kita bangga dengan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa di Asia dan lebih khusus di Indonesia, sedangkan dipihak lain, dalam kehidupan kita sehari, kita  hidup berdampingan dengan kemiskinan, penindasan, ketidakadilan, tekanan hidup, dan kurangnya kemampuan, ketrampilan, cara dari masyarakat miskin Indonesia untuk keluar dari segala masalahnya?

 

Beberapa orang berpikir ini adalah urusan makroekonomi,  masalah nasional, dan merupakan tanggung jawab pemerintah, ya memang benar ini adalah urusan pemerintah, tapi adalah suatu mustahil terselesaikan jika masyarakat dan gereja tidak berusaha membantu dan terlibat aktif dalam masalah masalah yang dihadapi masyarakat.

 

Dalam kehidupan bermasyarakat, rasa persaudaraan dan solidaritas kepada sesama manusia sepertinya semakin lama semakin menipis, ekonomi didasarkan kompetisi yang tajam, bisnis dan uang semakin hari makin menempati posisi penting dalam hidup tanpa memperhatikan “Dignity” harga diri dari manusia. Harga diri manusia hanya sebatas nilai uang dan menjadi komoditas untuk ditransaksikan, bahkan mengikuti mekanisme pasar.

 

Jika seseorang berhasil mengumpulkan uang banyak,  kemungkinan menjadi tinggi hati dengan dalih karena harus menyesuaikan social class-nya, sering terjadi di kehidupan dewasa ini, dimana lagikah kepedulian dan solidaritas kita sebagai orang kristen?

 

Perayaan Jumat Agung, Paskah Kebangkitan Tuhan Yesus adalah momen penting bagi kita umat percaya untuk menarik pelajaran (Lesson Learned), bahwa yang Tuhan inginkan dalam kehidupan kita adalah untuk mengambil contoh pengorbanan AnakNYA Yesus, yang rela mati untuk menebus dosa kita umat manusia, maukah kita mengikuti gaya hidup Yesus? Yang memiliki “solidaritas” dengan umat manusia.

 

Perumpamaan tentang Manna (Roti dari Surga) di Keluaran 16:18-26, mengajarkan kita tentang mengumpulkan secukupnya bagi keluarga kita, yang mengumpul banyak tidak kelebihan dan yang mengumpul sedikit tidak kekurangan. Tiap tiap orang mengumpulkan menurut keperluannya. Namun kita diajarkan untuk mengikuti aturan dan ajaran Tuhan, disaat mengambil lebih banyak dari yang kita butuhkan dan menyimpannya maka Manna menjadi busuk, tapi untuk hari Sabat, manna yang disimpan tidak menjadi busuk.

 

Prinsip ekonomi yang dianut dunia adalah ekonomi kapitalis sehingga dalam kehidupan kita, diarahkan untuk hidup dalam asas persaingan dan mengumpul, menimbun harta  sebanyak mungkin tanpa kita sadari kita tidak hidup dalam solidaritas dengan orang lain. Semoga perayaan paskah Yesus Kristus kali ini dapat kita rayakan dengan penuh kesederhanaan namun kaya arti dalam solidaritas kita dengan orang-orang miskin, orang sakit, orang orang yang hidup dalam tekanan dan ketidakadilan, dan pergumulan hidup.

Komentar ()
Berita Lainnya
Profil Perusahaan | © 2011 - 2023 BeritaKawanua.com - Terdepan Mengabarkan Fakta.