Opini
Emas Kuning ke Emas Hijau

DR.Ir.H. Irdika Mansur, M.For,Sc adalah seorang peneliti di Institut Pertanian Bogor di bidang ilmu budidaya hutan (silvikultur). Pendidikan Master diselesaikan di School of Forestry University of Canterbury Selandia Baru sedangkan pendidikan Doktor di Bio-sciences University of Kent. Sejak tahun 2003, beliau aktif dalam usaha – usaha pengem­balian produktivitas lahan tambang di berbagai lokasi tambang di Indonesia termasuk PT Newmont Minahasa Raya dan PT Newmont Nusa Tenggara. Tahun 2010 bukunya yang berjudul “Teknik Silvikultur untuk Reklamasi Lahan Bekas Tambang” diterbitkan dan 

dicetak dua kali. Beliau bisa dikontak di info@biotrop.org
 
Menambang Emas Kuning dan mewariskan Emas Hijau bagi Lingkungan yang Berkelanjutan. Itu pendapat DR.Ir.H. Irdika Mansur, M.For, Sc, peneliti asal Institut Pertanian Bogor dan SEAMEO Biotrop (Southeast Asian Regional Center for Tropical Biology). Berikut kutipan dari makalahnya yang berjudul: Mining Gold and Inherit Gold for Sustainable Environment ( Menambang Emas dan Mewarisi Emas demi Keberlangsungan Lingkungan Hidup ) yang ditampilkan pada The Fifth International Conference Mine Closure, 23-26 November 2010 di Vina del Mar, Chile.
 
Pertambangan di Indonesia memainkan peranan ekonomi yang sangat penting. Industri tambang membayar royalty dan berbagai pajak ke Pemerintah. Juga, melalui CSR (Corporate Social Responsibility atau tanggung jawab sosial korporasi) melakukan berbagai kegiatan meliputi pendidikan, kesehatan dan mengurangi kemiskinan di sekitar wilayah operasinya. Dalam banyak kasus di Indonesia, operasi tambang telah membuka isolasi daerah yang terletak di kawasan yang sulit dijangkau. Jalan, sekolah dan fasilitas publik lainnya dikembangkan oleh perusahaan tambang dimana mereka beroperasi. 
Emas dan sumber daya mineral lainnya termasuk batuba­ra adalah sumber daya yang tidak bisa diperbarui. Ketika stok habis maka operasi tambangpun selesai. Sebaliknya, pepohonan dan tumbuhan lainnya adalah sumber daya yang bisa diperbarui yang dapat dipanen dan ditanam dengan siklus yang berkelanjutan. 
 
PT Newmont Minahasa Raya yang beroperasi di Ra­tatotok, Sulawesi Utara, Indonesia saat ini sedang dalam persiapan penutupan tambang final. Dan 443,4 hektar area konsesi, hanya 196,26 hektar yang digunakan untuk operasi tambang. Dan untuk membangun fasilitas pendu­kung, sekarang bekas area tambang ini telah direvegeta­si. Jenis pohon utama yang digunakan untuk revegetasi dapat dibagi ke dalam 4 kelompok, yaitu spesies eksotis yang sangat komersil seperti Jati dan Mahoni, jenis lokal yang juga komersil seperti Nyatoh dan Eboni dan jenis tumbuhan bukan kayu non-komersil (jenis campuran) dan tumbuhan buah-buahan. Pemilihan jenis pohon tergan­tung pada kebijakan ekologi perusahaan dan pemerintah setempat. Jumlah pohon yang telah ditanam di area bekas tambang sekitar 187,694 pohon berumur sekitar 2-9 tahun. 
 
Spesies utama seperti Mahoni, Jati dan Sengon telah tumbuh dengan baik dan menjadi investasi berharga bagi masa depan bagi masyarakat dan pemerintah setempat. Ukuran normal bagi pohon untuk mendapatkan harga maksimal jika pohon itu telah berdiameter di atas 30 cm.  Karena itu, Sengon dapat dipanen lebih dulu, diikuti de-ngan Mahoni, Jati dan yang paling lambat pertumbuhannya adalah Nyatoh. Jenis pohon lain dengan perawatan yang sesuai dapat dipanen 20 tahun setelah ditanam. Sebaiknya dipanen dalam rotasi untuk memastikan terjadinya keberlanjutan. 
 
Dapat disimpulkan bahwa mengubah tambang emas men­jadi produksi kayu bernilai ekonomi tinggi yang berkelanju­tan (emas hijau) itu sangat mungkin. Seleksi jenis pohon bukan hanya jenis pohon yang penting secara ekologis, tetapi juga yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
 
(***)
Komentar ()
Berita Lainnya
Profil Perusahaan | © 2011 - 2023 BeritaKawanua.com - Terdepan Mengabarkan Fakta.