Opini
Jurnalisme Indonesia, Sebuah Pengalaman; Oleh Dr. S.H Sarundajang

Assalamualaikum Wr Wb,

Syalom, Salam Sejahtera…

Yang saya hormati,

Ketua Dewan Pers Republik Indonesia…

Ketua PWI Pusat, dan jajaran pengurus PWI…

Hadirin yang saya muliakan…

Suatu kehormatan dan kebanggaan bagi saya dapat berdiri di tempat ini di tengah insan pers, wartawan dan segenap komunitas pers nasional. Ini merupakan kebahagiaan tersendiri karena sesungguhnya berada di tengah komunitas pers seperti berada di dalam rumah sendiri. Dunia pers tidak asing bagi saya, karena saya juga pernah menjadi wartawan di sejumlah media dan ikut mendorong tumbuhnya pers lokal yang lebih mandiri dan berkualitas.

Bahkan sampai hari ini saya pun masih tercatat sebagai anggota PWI. Tentu ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya karena bisa menjadi bagian dari keluarga besar Pers Indonesia. Dalam perjalanan karir, saya juga ikut merasakan dinamika dan perjuangan pers,  mengikuti geliat sosial, ekonomi politik dan kebudayaan dimana pers telah memberi peran aktif sebagai pembawa informasi dan agen perubahan.

Pada kesempatan berbahagia ini, perkenankan saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kepercayaan masyarakat pers Indonesia bersama PWI yang telah menunjuk Sulawesi Utara sebagai tuan rumah penyelenggaraan Hari Pers Nasional pada 9 Februari 2013 silam. Penyelenggaraan HPN berlangsung sukses dan menorehkan tinta emas dalam perjalanan sejarah pers nasional dengan berbagai capaian yang berhasil ditorehkan di Manado.

Harapan saya, jalinan dan interaksi dalam sinergitas peran baik saya selaku Gubernur dan pemerintah Sulawesi Utara dengan kalangan Pers nasional akan terus terjalin harmonis berlandaskan pada ikhtiar dan itikad mulia untuk kemajuan bangsa dan kemanusiaan itu sendiri.

Atas dasar itu pula maka saya bergembira bisa mendapat kehormatan memperoleh anugerah Pena Emas oleh lembaga pers Persatuan Wartawan Indonesia Pusat. Tentu ini sebuah kebanggaan karena pencapaian ini tidak lepas dari penilaian yang komprehensif tentang kiprah saya bagi perkembangan dunia jurnalistik nasional. Saya haturkan terima kasih atas anugerah yang bersejarah ini.

 

Hadirin yang saya muliakan,

Pada kesempatan ini saya ingin mengurai sejumlah hal terkait pengalaman dan pandangan pribadi saya terhadap eksistensi dan peran pers nasonal di era modern dengan segala kompleksitas persoalan.

Saya ingin mulai dengan tema pembangunan, dimana pembangunan memiliki implikasi luas, tidak saja berorientasi ekonomi dengan variabel-variabelnya, tetapi mencakup berbagai aspek yang menyentuh kehidupan umat manusia.

Pembangunan juga linear dengan konsep pemikiran, dinamika sosial, kreativitas, inovasi, ekosistem, budaya dan kemajuan teknologi. Bahkan pers sendiri juga ikut menjadi bagian dari sebuah proses pembangunan secara institusional yakni manajemen usaha dan komponen lain yang melekat di dalamnya. 

Atas dasar itu maka menjadi relevan pembahasan kita menyangkut peran pers yang juga disebut sebagai pilar keempat (the four estate)dengan kondisi kita saat ini. Bahwa Pers tidak semata-mata menjadi pembawa informasi atau presse d’information, tetapi juga bagian integral dari sebuah proses kemajuan pembangunan suatu bangsa.

Agenda pembangunan juga seyogianya ikut menjadi agenda pers, karena pembangunan itu memiliki implikasi luas terhadap masyarakat. Pers harus mampu menempatkan diri dalam tanggung jawab moral terhadap publik dengan ikut mengawal setiap agenda pembangunan yang sedang berjalan.

Peran pers sebagai komunikator pembangunan tentu sangat penting dalam rangka menyampaikan secara berimbang informasi terkait agenda pembangunan yang dirancang dan dijalankan oleh pemerintah. Proses interaksi juga tidak semata-mata antara  pemerintah sebagai nara sumber dan media sebagai saluran informasi, tetapi lebih kepada  komunikasi timbal balik terkait dengan dampak dari sebuah kebijakan publik terkait pembangunan.

Saya yakin jika hubungan ini berlandaskan pada niat dan ikhtiar yang tulus bagi kepentingan rakyat luas maka persoalan independensi jurnalis atau wartawan dengan sendirinya terjaga dan tetap berdiri tegak, sebaliknya agenda utama pemerintah di bidang pembangunan yang berorientasi pada keterbukaan informasi akan ikut tercapai bersama.

Titik ekuilibrium, (meminjam istilah ekonomi), antara pers dan pemerintah senantiasa akan selalu tercapai jika kita memiliki niat dan semangat kebersamaan. Pers senantiasa tetap berdiri pada rel sebagai penjaga akuntabilitas dan integritas pelayan publik, dan pemerintah juga selaku penyelenggara kebijakan dapat menjalankan kebijakannya yang lebih baik dan terukur karena terkontrol serta memperoleh umpan balik (feedback) dari masyarakat.

Saya ingin memberikan contoh bagaimana pers mampu menjadi mitra pembangunan daerah dengan tetap memegang teguh idealisme dan profesionalismenya, yakni ketika Sulawesi Utara menggelar tiga iven besar dunia yakni World Ocean Conference, Coral Triangle Inititiative Summit dan Sail Bunaken pada tahun 1999.

Semua ini berawal dari gagasan bagaimana memaksimalisasi potensi daerah ketika ancaman krisis ekonomi yang menjadi momok pada waktu itu. Ide menggelar World Ocean Conference menjadi sebuah konsep monumental yang bertujuan memperkenalkan Sulut  di panggung dunia sekaligus menggerek ekonomi dan investasi bagi daerah.

Gagasan ini tentu membutuhkan medium dan saluran informasi yang memadai hingga bisa diterima sebagai agenda prioritas pemerintah pusat. WOC sebagai konsep membutuhkan endorsement yang kuat sehingga bisa menjadi agenda internasional atas nama Bangsa Indonesia. Di sinilah kemudian saya merasakan betul bagaimana peran media dan pers ikut mendorong dan membangun opini positif kepada para penentu kebijakan di level pusat dan dunia internasional.

Media lokal dan nasional bahu-membahu memberitakan urgensi kegiatan baik dari sisi substansi isu maupun dari kesiapan daerah selaku tuan rumah dan penggagas iven ini. Ada semangat ‘mendorong’ yang sangat kuat dari teman-teman media melalui pemberitaan yang simultan. Antusiasme media ini kemudian yang melahirkan harapan besar bahwa ide ini layak dan harus dijalankan hingga sukses. Saya melihat ini sebagai bentuk dari apa yang disebut sebagai bentuk jurnalisme harapan (espérer journalism) dimana media mendorong secara serius dan sungguh-sungguh suatu gagasan yang bersifat positif dan bernilai guna bagi kepentingan publik.

Peran media yang melampaui tugas utamanya sebagai pewarta berdasarkan fakta itu pernah dikemukakan oleh Allan Chalkey  dalam bukunya “A Manual of Development Journalist”Menurutnya, jurnalis juga dapat melakukan tugas promosi yakni memberikan pengertian, kesadaran dan rangsangan bertindak dalam hal terkait pembangunan.

Bagi saya, apa yang dilakukan oleh teman-teman media dalam ikut mendorong gagasan besar WOC tidak lepas dari dorongan tentang manfaat besar ide ini bagi kepentingan publik. Mereka memotret, menyerap, dan berdiskusi dan mendapatkan gambaran utuh terkait agenda ini, sehingga tidak berlebihan jika mereka ikut menjadi bagian dari gagasan visioner ini.

Terkait fakta ini, tidak berlebihan jika saya mengutip sebuah pernyataan yang pernah dilontarkan seorang Jurnalis Jamaika, Andrea Downer, "Development journalism gives soul to media, it gives it a human face." “Jurnalisme pembangunan memberikan jiwa kepada media, ia memberikan wajah kemanusiaan kepada media.”

Peran pers daerah dan nasional benar-benar telah membangun sinergitas yang kokoh dan menjadi role model dalam upaya mendorong sebuah gagasan dan inovasi secara bersama-sama demi kemajuan daerah. Kami bisa duduk bersama, saling bertukar pendapat tentang langkah persiapan iven monumental ini tanpa harus kehilangan identitas dan jatidiri profesi.

Hadirin yang saya hormati,

Kita tahu dan menyaksikan bersama, pada bulan Mei 2009 silam tidak hanya WOC yang sukses digelar di Sulut, tetapi juga CTI Summit. WOC mampu menghadirkan sekitar 80  negara dengan total peserta mencapai 5000 orang dengan output konkret “Manado Ocean Declaration”. Kemudian CTI Summit dihadiri oleh enam kepala negara, masing-masing Indonesia, Filipina, Malaysia, Timor Leste, Papua Nugini dan Kepulauan Solomon yang juga melahirkan “deklarasi CTI” dalam rangka penyelamatan terumbu karang di segitiga emas dunia.

Satu lagi momen spektakuler yang mampu digelar di Sulut yakni Sail Bunaken yang mampu memecahkan berbagai rekor dunia terkait di bidang maritim. Acara ini juga diliput secara luas dan antusias oleh media lokal, nasional dan asing  karena mampu menyedot partisipasi dan dukungan secara kolosal baik dari masyarakat dan kalangan maritim dunia. Salah satu yang spektakuler yakni hadirnya kapal induk USS George Washington pada International Fleet Review di teluk Manado.

Sukses tiga iven itu menjadi lompatan besar bagi kemajuan pembangunan di Sulut. Dampaknya mengglobal dan menjaditurnaround bagi ekonomi daerah. Pertumbuhan ekonomi meningkat, ketersediaan infrastruktur penunjang pariwisata berskala internasional, investasi meningkat tajam, menjadi destinasi MICE, bertambahnya lapangan kerja, dan yang tak kalah penting kemiskinan mengalami penurunan yang signifikan. Selain itu juga, sekretariat enam negara anggota CTI  telah dibangun di Manado.

Lebih jauh tentang konsep pembangunan bercirikan inovasi dan keunggulan geografis telah saya paparkan secara komprehensif saat menempuh ujian doktoral pada Universitas Gajah Mada pada medio februari 2011 silam melalui disertasi berjudul “Geostrategi Provinsi Sulawesi Utara Sebagai Pintu Gerbang Indonesia di Kawasan Asia Pasifik”. Disertasi ini telah dibukukan dengan judul“Geostrategi” dan sudah diterjemahkan dalam edisi bahasa Inggris.

 

Hadirin sekalian,

Tentu banyak capaian lain yang berhasil kami lakukan di daerah tak lepas dari dukungan dan peran media. Jurnalisme yang konstruktif tanpa kehilangan idealisme dan profesionalitas sebagaimana saya sebut di atas memang bukanlah hal yang utopis sepanjang kita mampu membangun komunikasi seimbang didasari oleh niat yang tulus untuk kepentingan lebih besar.  

Saya sepakat dengan apa yang pernah dikemukakan oleh Paus Johanes Paulus II terkait jurnalisme, dimana dia menulis jurnalisme harus dihayati sebagai misi yang dalam batas tertentu dianggap suci, bertindak-tanduk dengan pemahaman bahwa cara berkomunikasi yang kuat telah dipercayakan kepada Anda demi kebaikan kita semua.”

Dalam konteks itu, maka setiap upaya jurnalistik yang dilandasi oleh niat baik dan mulia tidak akan bersinggungan atau saling mencederai dengan unsur sumber berita dan informasi melainkan saling mendukung dan memperkuat. Pers tidak semata berjalan dalam jubah idealisme sempit tetapi memiliki parameter dan nilai universal terkait fungsi akhirnya yakni bagi kepentingan publik itu sendiri.

 

Hadirin yang saya muliakan,

Saya juga ingin menyinggung sedikit tentang pengalaman saya dalam menyelesaikan konflik di Maluku Utara dan Ambon Maluku tahun 2002 dan 2003 silam. Saya merasakan betul bagaimana media memliki peran penting dalam menjalankan peace journalism. Tugas berat itu bisa saya lalui dengan happy ending dengan bersemainya perdamaian di dua daerah yang terlibat konflik horizontal berkepanjangan. Saya pun meyakini jurnalisme perdamaian yang diusung teman-teman pers mampu bersinergi dengan gagasan peace-making dan peace-building yang kami bangun kala itu sehingga perdamaian dapat tercipta dan konflik pun dapat diakhiri.

Keberhasilan dalam menyelesaikan konflik itu, ternyata menarik perhatian Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, yang kemudian memberi saya anugerah doktor honoris causa pada medio Juli 2012 silam. Tentu ini membanggakan karena saya satu-satunya orang Kristen yang mendapat kehormatan memperoleh gelar akademik oleh civitas akademika yang sangat getol mendorong pluralitas itu. Namun saya sangat menyadari pula bahwa keberhasilan itu bukan semata-mata karena kepintaran dan kehebatan saya, tetapi saya hanyalah sekadar alat Tuhan.

Hadirin sekalian, insan pers yang saya banggakan,

Tentu, jika saya harus mengurai panjang lebar interaksi dalam konteks tugas, hubungan emosional, historis dengan wartawan dan media maka forum ini tidak akan cukup mengingat waktu yang terbatas. Ada banyak hal menarik dan mengesankan sekaligus bersejarah yang telah tercipta dan tak akan lekang oleh waktu.

Akhir kata, pers bagi saya adalah pilar penting yang akan tetap abadi dalam pengawal peradaban manusia. Kebebasan pers harus tetap dirawat dan dijaga, di lain pihak tanggung jawab sosial, pembangunan dan edukasi harus tetap menjadi ciri pers modern.

Akhinya sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas penghargaan Pena Emas ini,

jayalah pers Indonesia !

 

Wassalamuaalaikum Wr Wbr,

Jakarta, 28 Juni 2013

 

 

*) Pembawa materi Gubernur Sulawesi Utara, disampaikan pada penganugerahan pena emas oleh Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia.

Komentar ()
Berita Lainnya
Profil Perusahaan | © 2011 - 2023 BeritaKawanua.com - Terdepan Mengabarkan Fakta.