Opini
Manfaat Koalisi PDI-P dan Golkar di Pilgub Sulut

 

 

 

Oleh: Viktus Murin

(Mantan Sekjen Presidium GMNI/Penulis Buku “Mencari Indonesia, Balada Kaum Terusir”)

 

 

Tinggal menghitung hari, masyarakat Sulawesi Utara bakal mengetahui siapa sesungguhnya nama Calon Wakil Gubernur  yang menjadi pasangan Olly Dondokambey, satu-satunya Calon Gubernur Sulut dari PDI-Perjuangan. Menarik untuk dinantikan nama Cawagub Sulut, mengingat beberapa bulan belakangan ini, nama Olly bagai meroket sendirian. Pertarungan seru justru terjadi dalam bursa Cawagub.

Informasi terkini menyebutkan, paling lambat tanggal 20 Juli 2015, nama pendamping Olly sudah diketahui. Pada Rabu 8 Juli 2015, DPP PDI-P melaksanakan fit and propert test di Jakarta yang diikuti 13 tokoh nominator Cawagub Sulut. Mereka adalah James Sumendap, Hironimus Makagansa, Jabes Gaghana, Teddy Kumaat, Robby Mamuaja, Lucky Korah, Toni Supit, Jerry Sambuaga, Gretty Tielman, Donny Makaminan, Robby Tuilan, Djouhari Kansil, dan Steven Kandow. (Manado Post, Rabu 8/7/2015).

Seiring fluktuasi suhu politik menuju gelaran Pilgub Sulut 9 Desember 2015, kian menguat pula pandangan politik, opini, dan usul-saran berbagai pihak  mengenai pentingnya stabilitas politik dan pemerintahan Sulut lima tahun ke depan. Caranya adalah dengan merealisasikan koalisi partai peraih kursi terbanyak di DPRD Sulut, dalam hal ini PDI-P dan Partai Golkar.  Apa saja  manfaat yang dapat dipetik dalam masa pemerintahan Provinsi Sulut lima tahun mendatang, jika koalisi dua partai terbesar itu benar-benar terjadi? Berikut ini beberapa perspektif mengenai manfaat koalisi PDI-P dan Golkar di Pilgub Sulut.

Pertama, dari perspektif ideologis; koalisi PDI-P dan Golkar akan mengakselerasi praksis nilai-nilai ideologis yang diperjuangkan oleh kedua partai nasionalis ini, yakni menegakkan Pancasila sebagai filosofi berbangsa dan bernegara,  serta melaksanakan secara konsekuen UUD 1945 dalam bingkai NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.  Kendati acapkali berbeda dalam jargon politik, namun PDI-P dan Golkar telah teruji oleh perjalanan sejarah kebangsaan, sebagai kekuatan pengawal Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera), yang dalam pemikiran mendiang Bung Karno diterminologikan dengan “Trisakti” yakni berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan.

Kedua, dari perspektif politik; koalisi “partai banteng moncong putih” dan “partai beringin” lebih memudahkan komunikasi politik antara Pemprov Sulut dengan Pemerintah Pusat yang kini dinahkodai oleh duet tokoh sentral PDI-P dan Golkar, dalam hal ini Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla. Pengaruh dari kepemimpinan puncak Pemerintah Pusat dan Pemprov Sulut lima tahun mendatang, berpeluang menghasilkan komunikasi politik yang lebih efektif khususnya dalam hal politik anggaran (besaran APBN), untuk makin memajukan pembangunan Sulut khususnya sektor infrastruktur publik, industri, dan kebijakan investasi.

Ketiga, dari perspektif ekonomi; koalisi PDI-P dan Golkar menjadi garansi kenyamanan berinvestasi di Sulut, mengingat para investor dari luar Sulut sangat memperhitungkan kemungkinan gejolak politik yang bisa berimbas pada aspek kenyamanan investasi. Keberadaan PDI-P dan Golkar sebagai dua partai peraih kursi terbanyak di DPRD Sulut menjadi garansi stabilitas politik di Sulut. Halmana memberikan efek positif bagi pertumbuhan iklim investasi dan pembangunan ekonomi Sulut, khususya pada sektor pertanian-perkebunan-peternakan, dan sektor perikanan-kelautan/maritim. 

Keempat, dari perspektif sosial-budaya; koalisi PDI-P dan Golkar secara sosio-politik semakin memberikan pengaruh positif kepada segenap konstituen pemilih kedua partai terbesar ini. Harmoni dan kohesivitas sosial khususnya di kalangan pemilih akar rumput (grassrooth) tentu akan semakin terjaga, mengingat masyarakat politik lokal umumnya masih menjadikan pemimpin formal sebagai sumber keteladanan (rolemodel). Karakteristik masyarakat Sulut yang egaliter dan rasional, sekaligus kokoh dalam ikatan budaya mapalus (baca: gotong-royong), akan makin memperkuat tatanan sosial-budaya masyarakat Sulut.

Kelima, dari perspektif geostrategi; koalisi PDI-P dan Golkar bermanfaat untuk memobilisasi kekuatan pemikiran dalam rangka merumuskan “kebijakan-kebijakan strategis yang berbasis pada politik kebangsaan”, guna menghadapi realitas tantangan geo-politik dan geo-ekonomi memasuki era MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Posisi Sulut yang berada tepat di bibir Pasifik, dengan demikian menjadi pintu gerbang (gateway) Indonesia di kawasan Pasifik dan Asia Timur. Wawasan kebangsaan yang telah mengkristal sekaligus menjadi karakter dari PDI-P maupun Golkar, dipandang lebih siap untuk menghadapi dan menjawab berbagai tantangan geostrategi Sulut.

Berkaca pada proyeksi pemikiran-pemikiran di atas,  akankah PDI-P dan Partai Golkar mau mengerucutkan arah koalisinya di panggung Pilgub Sulut?  Jika jadi berkoalisi,  maka besar kemungkinan Calon Gubernur Olly Dondokambey dari PDI-P, bakal berduet dengan Cawagub Jerry Sambuga dari Partai Golkar. (*)

* Opini ini telah dimuat pada Harian MANADO POST,  Kamis 9 Juli 2015

 

Komentar ()
Berita Lainnya
Profil Perusahaan | © 2011 - 2023 BeritaKawanua.com - Terdepan Mengabarkan Fakta.