Opini
Menakar Peluang Jim Robert Tindi pada Pileg 2019
 
 
 
Oleh: Sandra R. Medawo
 
 
JIM R. TINDI (JRT) adalah Caleg DPRD Sulut dari partai Hanura untuk Daerah Pemilihan (Dapil) Sulut III pada Pileg Sulut 2019. Dapil Sulut III terdiri dari tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Sangihe, Talaud dan Sitaro.
 
 
Di kalangan masyarakat Sulut, Jim  R. Tindi dikenal aktif dalam memperjuangkan hak-hak buruh, petani dan rakyat kecil yang dirugikan oleh kebijakan sepihak pemerintah maupun kepentingan korporat. Ditambah lagi dengan jam terbangnya sebagai praktisi politik sekaligus sebagai konsultan politik. Berbagai aktitivitas yang menyangkut kepentingan rakyat yang dibela dan diperjuangkan tidak terlepas dari latar belakangnya sebagai aktivis ’98.
 
 
Aktivis ’98 adalah pelaku gerakan reformasi di tahun 1997-1998 yang berhasil menjatuhkan pemerintahan Presiden Soeharto yang otoriter dan melahirkan era Reformasi, yang dampaknya dirasakan sampai ini seperti kebebasan berpendapat, transparansi dalam pengelolaan pemerintahan, kebebasan pers dan Pemilihan Umum secara Jujur, Bebas, Adil dan Rahasia. Di kalangan aktivis mahasiswa pasca-reformasi, gerakan politik yang dilakukan para aktivis ’98 dijadikan sebagai barometer pergerakan mahasiswa.
 
 
Dengan latar belakang keterlibatannya dalam gerakan reformasi ’98 dan pengalaman berkecimpung dalam dunia advokasi dan politik di Sulawesi Utara, maka dapat dikatakan bahwa Jim R. Tindi ‘matang’ secara politik untuk mengikuti kontestasi Pileg 2019 dan berpeluang terpilih menjadi anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara.
 
 
Hal ini didasarkan pada beberapa faktor. Pertama, Jimmy R. Tindi merepresentasi suara pemilih muda dari Dapil Sulut 3. Merujuk pada data Badan Pusat Statistik, penduduk yang berhak pilih di Dapil 3 dengan usia rentang pemilih pemula sampai dengan umur 40 tahun adalah sebesar 36,38%.
 
 
Dengan banyaknya pilihan calon disodorkan, maka JRT berpeluang mendulang suara dari pemilih muda yang secara psikologis bisa cenderung memilih calon yang bisa merepresentasi golongannya dalam panggung politik dan tidak terdapat gap dalam berkomunikasi dengan caleg yang diusungnya. Kondisi ini didukung oleh popularitas JRT di kalangan mahasiswa dan pemuda dari Kepulauan Sangihe, Sitaro dan Talaud.
 
 
Kedua, Efek limpahan suara dari Pilkada Talaud tahun 2018. Dengan mengkapitalisasi dan me-reorganisir pemilih calon Bupati-Wabup Talaud 2018 yang notabene maju dari Partai Hanura, sebanyak 14.525 suara atau sebesar 25,05% dari total pemilih, maka JRT berpeluang memperoleh limpahan suara yang signifikan dari basis pemilih ini.
 
 
Ketiga, efek media sosial. Pada kontestasi politik kontemporer, medan politik telah berubah. Kandidat maupun partai politik tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan konvensional namun memerlukan pendekatan dengan memanfaatkan internet sebagai media komunikasi dan kampanye.
 
 
Survei dari Asosiasi Pengguna Jasa Internet (APJI) tahun 2017 menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia telah mencapai 143,26 juta, dimana sebesar 87,13% layanan yang diakses adalah media sosial. JRT telah lama menginvestasikan pandangan dan pemikiran politiknya serta intens berinteraksi dengan masyarakat melalui media sosial sehingga adanya modalitas awal basis massa melalui jejaring media sosial yang berpeluang memilih pada Pileg 2019 mendatang.
 
 
Keempat adalah berkaitan dengan persepsi publik terhadap anggota dewan yang menjabat. Tak dapat dinaifkan bahwa tingkat kepuasan publik terhadap kinerja lembaga legislatif relatif rendah, misalnya hasil survei Indobarometer tahun 2017 menunjukan angka hanya 34% publik puas terhadap kinerja anggota DPR dan 29% publik puas dengan penyerapan aspirasi publik. Realitas yang hampir sama juga terjadi di daerah, yaitu terbentuknya persepsi publik aspirasi mereka yang tidak terwakili dan adanya gap dalam interaksi antara konstituen dan para wakil rakyat yang mewakilinya.
 
 
JRT dalam hal ini berpeluang memperoleh suara dari basis pemilih ini dengan mengakumulasi dan menyerap aspirasi basis pemilih potensial ini. Dari sisi pilihan partai, JRT memilih maju dari partai Hanura. 
 
Dari rilis 3 lembaga survei, elektabilitas partai Hanura masih tergolong rendah. Hasil survey Cyrus-Network per-April 2018 menunjukkan tingkat elektabilitas partai Hanura sebesar 1.0%, dan hasil survey LSI, Partai Hanura menunjukkan angka elektabilitas sebesar 0.7%, sedangkan lembaga survey Indikator Indonesia mencatat elektabilitas partai Hanura ada di angka 0.5%.
 
 
Namun, berkaca dari Pileg 2014, berbagai hasil survei juga menunjukkan rendahnya angka elektabilitas beberapa partai besar, tetapi dengan maksimalnya mesin partai, dapat memperoleh suara yang cukup besar. Selain itu, dari berbagai survei di atas, menyisahkan 18-20-an% undecided voters yang bisa ditarik oleh partai Hanura terutama di Sulawesi Utara, dan dengan memaksimalkan mesin partai untuk mendukung capres Jokowi dalam Pilpres 2019 dan Benny Rhamdani sebagai tokoh masyarakat di Sulawesi Utara, diprediksi bisa memberikan Cottail Effect kepada partai Hanura dan kepada para kandidat.
 
 
Kemudian, tantangan lain yang muncul adalah berkaitan dengan bagaimana setiap caleg dari partai Hanura dan pengurus partai di Dapil III harus bekerja keras untuk mendongkrak suara partai karena dengan metode penghitungan suara Sainte Lague yang akan digunakan pada Pileg 2019, total suara partai sangat menentukan terpilih atau tidaknya caleg.
 
 
Maka dari itu, saya menyimpulkan bahwa dengan modalitas politik yang dimiliki, kinerja maksimal mesin partai dan dibarengi dengan strategi yang tepat, JRT berpeluang untuk terpilih di Dapil III Sanghihe, Sitaro dan Talaud pada Pileg 2019.
 
 
(Penulis adalah : Direktur Eksekutif Institute for Regional Pluralism and Democracy)
 
 
(acha/bk-8)
 
 
 
Komentar ()
Berita Lainnya
Profil Perusahaan | © 2011 - 2018 BeritaKawanua.com - Terdepan Mengabarkan Fakta.